ORGANISASI & ADMINISTRASI
PERPUSTAKAAN
A. Pengertian organisasi
Pengertian organisasi secara umum adalah perkumpulan. dan manusia yang tergabung dalam suatu wadah dengan maksud untuk mencapai tujuan bersama yang telah digariskan sebelumnya. Menurut Bernard, organisasi adalah suatu. sistem mengenai usaha-usaha kerjasama yang dilakukan. oleh dua orang atau lebih. James D. Mooney merumuskan bahwa organisasi ialah setiap bentuk perserikatan manusia untuk mencapai suatu tujuan bersama. Sondang P. Siagian mengatakan, bahwa organisasi adalah setiap bentuk persekutuan antara dua orang atau. lebih yang bekerja sama. untuk mencapai suatu tujuan. bersama, dan terikat secara formal dalam suatu ikatan. hirarkis dan selalu terdapat hubungan antara seseorang atau sekelompok orang yang disebut pimpinan dan seorang atau sekelompok orang yang disebut bawahan.
Pendapat para, ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa organisasi diwujudkan oleh adanya sekelompok orang yang berserikat dan bekerjasama untuk mencapai suatu. kepentingan yang telah disetujui bersama. Butir-butir penting yang dapat dirumuskan dari definisi organisasi adalah:
a. adanya kelompok orang yang bekerja sama
b. adanya tujuan tertentu. yang akan di capai
c. adanya pekerjaan yang akan dikerjakan
d. adanya penetapan dan. pengelompokan. pekerjaan
e. adanya wewenang dan tanggung jawab
f. adanya pendelegasian wewenang
g. adanya hubungan satu. sama lain
h. adanya penempatan. orang yang akan melakukan pekerjaan
i. adanya tata tertib yang harus ditaati
Jika ditilik dari beberapa aspek di atas, organisasi adalah wadah kegiatan adminsitrasi dan manajemen, sedang administrasi adalah keseluruhan proses pelaksanaan kegiatan. kerja yang dilakukan oleh semua tenaga yang ada dalam organisasi untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Manajemen adalah keterampilan untuk memperoleh hasil dalam rangka pencapaian tujuan. yang telah ditentukan dengan cara. menggerakkan orang-orang lain dalam organisasi.
Manusia merupakan unsure terpenting dalam proses administrasi karena bertindak sebagai tenaga penggerak. Karena organisasi merupakan kumpulan manusia yang secara sadar ingin mencapai tujuan bersama, maka orgamsasi bersifat dinamis dan berkembang. Jika orgamsasi tidak berkembang, maka lama-kelamaan organisasi tersebut akan mati dan tidak menunjukkan aktivitasnya sama sekali. Sebagai alat administrasi dan manajenien, orgainsasi dapat ditinjau dari dua segi.
a. Organisasi sebagai wadah
Sebagai wadah, organisasi meliki sifat yang relatif tetap dan pola dasar struktur organisasi yang relatif permanen. Namun demikian bukan berarti bahwa organisasi tersebut statis, organisasi harus bersifat dinamis. Dinamika ini menujukkan bahwa sebagai wadah maka organisasi tersebut tumbuh dan berkembang. Suatu organisasi yang baik bentuknya sederhana sesuai dengan tuntutan tugas pokok dan fungsi yang menimbulkan beban kerja. Bila ada unit kerja di luar struktur seperti tim, panitia, dan panitia ad-hoc, hal itu menunjukkan bahwa unit organisasi yang seharusnya melembaga tidak atau kurang mampu melaksanakan tugas kewajibannya.
b. Organisasi sebagai proses interaksi
Sebagai proses, organisasi menyoroti interaksi antara orang-orang di dalamnya. Interaksi ini dapat menimbulkan hubungan formal dan informal. Hubungan formal antara orang-orang dalam organisasi telah diatur dalam dasar hukum rincian susunan organisasi serta hubungan yang bersifat hirarkis dan biasanya tergambar dalam bagart struktur organisasi. Hubungan informal tidak diatur dan tidak terlihat dalam struktur organisasi.
B. Organisasi Perpustakaan
Setiap perpustakaan, baik kecil maupun besar, perlu diatur dan ditata dengan baik, sehingga pelaksanaan kegiatan kerjanya dapat berjalan dengan efisien dan efektif. Pengetahuan tentang seluk-beluk, pelaksanaan, dan teknik kepustakawanan disebut organisasi dan. administrasi perpustakaan. Semua kepala perpustakaan dan kepala unit kerja dalam perpustakaan perlu memiliki pengetahuan dan keterampilan di bidang organisasi dan administrasi perpustakaan, sehingga dapat melaksanakan tugas pimpinan. dengan baik.
Untuk dapat memperoleh hasil yang baik, diperlukan kemauan dan kemampuan tenaga untuk bekerjasama sehingga dalam suatu organisasi perpustakaan perlu. ada pembagian tugas untuk pelaksanaan yang meliputi:
a) beban kerja yang harus dipikul
b) jenis pekerjaan yang bcragam
c) kebutuhan berbagai macam spesialisasi
Pembagian tugas, hendaknya dilaksanakan sesuai dengan kemampuan, keahlian, dan bakat orang-orang yang tersedia di dalam organisasi. Meskipun ada pembagian tugas, namun keseluruhan beban kerja harus dilaksanakan sebagai satu kesatuan yang bulat sehingga perlu ada pertimbangan ekonomis dengan memperhatikan masalah-masalah di lingkungan perpustakaan. sebagai berikut:
a. produktivitas kerja
b. efisiensi
c. efektivitas
d. penegakan disiplin kerja
e. kegairahan kerja
f. kecepatan layanan
g. kualitas layanan
h. kepuasan pemakai
Kepala perpustakaan harus mengetahui kapasitas, bakat dan potcnsi bawahannya agar usaha pengembangan meniadi lebih terarah. Tugas terpenting seorang pimpinan di lingkungan perpustakaan. adalah mengambil keputusan: pimpinan tertinggi mengambil keputusan yang bersifat menveluruh, sedang pimpinan tingkat terendah mengambil kcputusan yang implikasmya terbatas pada unit organisasi yang dipimpinnya.
Dalam organisasi perpustakaan maka agar organisasi tersebut dapat berjalan dengan baik, pimpinan perpustakaan perlu memperhatikan aspek-aspek sebagai berikut:
1 ) Penentuan Tujuan Perpustakaan
Tujuan harus dirumuskan secara jelas dan lengkap, baik mengenai bidang, ruang
lingkung sasaran, keahlian dan/atau keterampilan, serta peralatan yang diperlukan. Dari tujuan yang telah dirumuskan dapat diperkirakan bentuk, susunan, corak, dan ukuran besar kecilnya organisasi yang harus disusun.
2) Perumusan Tugas Pokok Perpustakaan
Tugas pokok adalah sasaran yang dibebankan kepada organisasi untuk dicapai:
organisasi besar maka tugas pokoknya luas, sedangkan organisasi kecil tugas pokoknya terbatas. Perumus tugas pokok perlu memperhatikan hal-hal berikut di bawah ini:
a. Tugas poko harus merupakan bagian dari tujuan yang harus dicapai dalam jangka waktu tertent.
b. Tugas pokok harus memperhitungkan batas kemampuan yang ada untuk mencapai tujuan dalam jangka waktu tertentu.
3) Rincian Kegiatan
Semua kegiatan kerja yang harus dilakukan untuk melaksanakan tugas pokok harus disusun secara lengkap dan terinci. Selain itu, harus, dibedakan antara kegiatan kerja yang penting dan kurang penting, kegiatan kerja utama dan penunjang.
4) Pengelompokan Kegiatan Kerja
Kegiatan kerja yang erat hubungannya satu sama lain dikelompokkan, dan pengelompokan ini disebut fungsionalisasi. Setelah tersusun, dilakukan:
a. pengadaan personel.
b. penyediaan anggaran
c. penyediaan peralatan
d. penyusunan sistem hubungan kerja
e. penyusunan prosedur dan tata kerja
c. Penyusunan Organisasi Perpustakaan
Perpustakaan adalah organisasi, berupa lembaga, atau unit keria yang bertugas menghimpun koleksi pustaka dan menyediakannya bagi masyarakat untuk dirnanfaatkan. Lembaga merupakan organisasi yang otonom, sedang unit kerja merupakan organisasi di dalam oqganisasi, sehingga memiliki lembaga induk. Tujuan perpustakaan sebagai organisasi otonom agak berbeda dengan tujuan perpustakaan sebagai anak suatu organisasi yang telah mempunyai tujuan tertentu. Tujuan perpustakaan yang terakhir ini mendukung tujuan lembaga induknya. Proses penyusunan organisasi perpustakaan dijabarkan. menurut urutan sebagai berikut:
1. Tujuan Perpustakaan
Perpustakaan secara umum bertujuan untuk metakukan layanan informasi literer kepada, masyarakat. Tujuan khusus dibedakan oleh jenis perpustakaannya karena setiap jenis perpustakaan melayani kelornpok masyarakat yang berbeda satu sama lain. Tujuan tersebut adalah sebagai berikut:
a. Perpustakaan Nasional di samping melayani masyarakat, juga mempunyai fimgsi lain, yaitu sebagai perpustakaan deposit
b. Perpustakaan Perguruan Tinggi melayani masyarakat khusus suatu pergunian tinggi
c. Perpustakaan Khusus melayani suatu kelompok masyarakat homogen yang mempunyai minat dan kebutuhan akan infbrmasi khusus.
d. Perpustakaan Umum. melayani seluruh lapisan masyarakat
e. Perpustakaan Sekolah melayam masyarakat khusus suatu sekolah.
2. Tugas Pokok Perpustakaan
Karena tujuannya memberi layanan infonnasi leterer kepada masyarakat, maka tugas pokok adalah:
a. menghimpun bahan pustaka yang meliputi buku. dan nonbuku sebagai sumber informasi, dapat dilakukan dengan cara membeh, meminta/menerima sebagai hadiah, tukar-menukar, atau. titipan.
b. mengolah dan merawat pustaka yang meliputi tugas-tlugas: mencatat pustaka dalam buku induk, mengklasifikasi pustaka, membuatkan katalog untuk alat telusur, memberii label buku. sebagai sandi tempat menyimpannya, mcngatur buku di rak/almari, menyusun kartu-kartu katalog, merawat pustaka supaya tidak mudah rusak atau. hilang.
c. memberikan layanan bahan. pustaka, koleksi yang sudah selesai diolah disajikan kepada pengguna perpustakaan untuk dimanfaatkan.
3. Rincian Kegiatan Kerja Perpustakaan
Kegiatan-kegiatan keria yang harus dilakukan oleh perpustakaan sangat bervariasi,
namun demikian pada dasarnya rincian kerja tersebut adalah sama. Perbedaan rincian kerja
disebabkan jenis perpustakaan yang berbeda sehingga mengakibatkan. cakupan tugasnya
tentunva juga agak berbeda.
4. Pengelompokan Kegiatan Kerja
Kegiatan kerja yang erat hubungannya satu. sama lain dikumpulkan dalam satu kelompok, maka terdapat tiga kelompok kegiatan, yaitu:
a. Kelompok Pembinaan Koleksi, adalah semua kegiatan ke:ga vang berhubungan dengan bahan pustaka, meliputi pengadaan,pengolahan, dan perawatan.
b. Kelompok Pelayanan, adalah semua kegiatan keIja yang berhubungan dengan jasa layanan, meliputi layanan peminjaman pustaka. layanan referensi. Layanan informasi/penelusuran.
c. Kelompok Administrasi adalah semua kegiatan kerja yang berhubungan dengan admmistrasi kantor diluar kegiatan bidang kepustakawanan.
d. Struktur Organisasi Perpustakaan
Setelah proses penyusunan organisasi perpustakaan selesai sampai ditentukannya kelompok kegiatan kerja, maka struktur organisasi dapat digambarkan dalam sebuah bagan. Sebaiknya dalam sebuah struktur organisasi juga perlu dipertimbangkan masuknya unit atau komisi sebagai lembaga pertimbangan yang secara teknis tidak ikut campur dalam urusan operasional perpustakaan, akan tetapi diminta bisa memberikan masukan ide maupun pemikiran tentang kemajuan perpustakaan. Di lingkungan sekolah, komisi ini adalah dewan guru. Tidak sernua guru yang duduk dalam dewan guru dapat melakukan pertimbangan kepada perpustakaan, akan tetapi cukup beberapa guru yang dipandang memiliki kemauan dan kemampuan dalam bidang itu.. Struktur Organisasi Perpustakaan Sekolah (Darmono, 2001)
Administrasi Perpustakaan
Merupakan keseluruhan proses kegiatan yang dilakukan di perpustakaan dengan menggunakan fasilitas yang ada untuk memperlancar dan memepercepat tercapainya tujuan perpustakaan (Rompas,1985 : 12)
a. Administrasi pengolahan buku
adalah rangkaian pekerjaan dalam mempersiapkan buku agar mudah diperoleh dan diketahui informasi yang ada didalamnya, terdiri atas :
- Inventarisasi (pembukaan buku induk)
- Yaitu mencatatkan ke buku induk perpustakaan kekayaan koleksi perpustakaan.
- Cap inventarisasi dan cap perpustakaan
- Klasifikasi
- Yaitu menentukan subjek yang dimiliki buku dengan angka klasifikasi
- Katalogisasi
- Adalah member informasi singkat tentang buku baik fisik dan subjeknya
- Label buku dan sampel
- Filling dan Shelving
- Statistik pengolahan
b. Administrasi Pelayanan
Yaitu : membantu pengguna pustaka untuk mendapatkan bahan bacaan dan informasi yang diperlukan, yang meliputi :
1. Menyusun layout ruangan
2. Memelihara susunan buku di rak
3. Menyusun aturan dan tata tertib ruangan
4. Menerima anggota perpustakaan
5. Melaksanakan peminjaman dan pengembalian buku
6. Memberikan pelayanan informasi dan referensi
7. Memberkan bimbingan membaca
8. Menyusun statistik dan laporan pelayanan perpustakaan
c. Administrasi Pemeliharaan Buku
Menyangkut hal-hal berikut :
a) Buku kotor
sanksinya diberi peringatan saja.
b) Buku rusak
dinasehati dan apabila kerusakannya besar diganti.
c) Buku yang hilang
sanksinya diganti
d. Administrasi Keanggotaan
Syarat-sayrat keanggotaan :
1. Pemohon masih aktif di suatu daerah tertentu atau tinggal di sutu daerah tertentu,
2. Memiliki kartu peminjaman,
3. Bersedia mematuhi peraturan.
e. Laporan dan Statistik Perpustakaan
Yaitu : maju mundurnya pelayanan perpustakaan tergantung dari data statistic dan laporan perpustakaan itu sendiri. Hendaknya keadaan suatu perpustakaan berkembang pesat dan maju.statistik yang harus dibuat adalah :
• Statistik anggota
• Statistik pengurus perpustakaan
• Statistik buku yang dibaca
• Statistik peminjaman
• Statistik pelayanan informasi dan referensi
• Statistik koleksi perpustakaan
• Statistik buku hilang dan rusak
f. Peminjaman Buku
• Sistem terbuka
Pengguna perpustakaan diperbolehkan mencari dan mengambil sendiri buku-buku yang digunakan
• Sistem tertutup
Apabila ingin mencari buku harus melalui petugas
Pengembalian buku
Yaitu : Tata cara pengembalian buku antara sistem terbuka dan tertutup sama saja.buku yang dikembalikan diserahkan pada bagian sirkulasi petugas meneliti tanggal yang tertera pada slip untuk mengetahui terlambat atau tidaknya pengembalian buku
DAFTAR PUSTAKA
Abihafis. 2009. Fungsi Manajemen Perputakaan. http://abihafiz.wordpress.com ( Diakses pada
tanggal 15 Maret 2010)
Bafadal, Ibrahim. 2005. Pengelolaan Perpustakaan Sekolah. Jakarta: Bumi Aksara.
Soetminah. 1992. Perpustakaan Kepustakawanan dan Pustakawan. Yogyakarta: Kanesius.
Widiasa, I Ketut. 2007. MANAJEMEN PERPUSTAKAAN SEKOLAH. Pustakawan
Universitas Negeri Malang. ( Diakses pada tanggal 15 Maret 2010)
Yusuf, Pawit M dan Yahya Suhendra. 2007. Pedoman Penyelenggaraan Perpustaka-an Sekolah:
Jakarta. Kencana Prenada Media Group.
Kamis, 02 September 2010
KATALOGISASI
KATALOGISASI
A. Pengertian
Pengertian Katalog
Katolog adalah daftar koleksi perpustakaan. Katolog bisa disusun berdasarkan alfabetis nama pengarang, judul, nama penerbit dan lain - lain tergantung pustakawan di sekolah masing-masing. Katalog merupakan kumpulan buku -buku yang sudah masuk kedalam perpustakaan.
Katalog adalah Presentasi ciri-ciri dari sebuah bahan pustaka atau dokumen (misalnya: judul, pengarang, deskripsi fisik, subyek, dll.) koleksi perpustakaan yang merupakan wakil ringkas bahan pustaka tersebut yang disusun secara sistematis.
Katalogisasi (cataloging): Kegiatan atau proses pembuatan wakil ringkas dari bahan pustaka atau dokumen (buku, majalah, CD-ROM, mikrofilm, dll.). Istilah ini kadang-kadang juga meliputi klasifikasi bahan pustaka dan secara umum penyiapan bahan pustaka untuk digunakan pemakai. Kadang-kadang disebut juga dengan istilah pengindeksan (indexing).
Katalogisasi atau pengatalogan adalah proses pembuatan katalog dimana dalam katalog dicantumkan data penting yang terkandung dalam bahan pustaka, baik ciri fisik maupun isi intelektual, seperti nama pengarang, judul buku, penerbit dan subyek. Jadi katalogisasi adalah proses pengambilan keputusan yang menuntut kemampuan mengintepretasikan dan menerapkan berbagai standar sehingga hal-hal penting dari bahan pustaka terekam menjadi katalog.
Katalog perpustakaan adalah deskripsi pustaka milik suatu perpustakaan yang disusun secara sistematis (sistematis abjad, nomor klasifikasi) sehingga dapat digunakan untuk mencari dan menemukan lokasi pustaka dengan mudah. Selain untuk alat bantu penelusuran koleksi, katalog dapat juga digunakan untuk mengetahui kekayaan koleksi suatu perpustakaan sebab kartu katalog mewakili buku-buku yang ada di rak yang dimiliki oleh suatu perpustakaan.
Salah satu pekerjaan teknis di perpustakaan adalah kerja “katalogisasi” ini adalah proses pembuatan kartu katalog. Katalogisasi berasal dari kata katalog yang artinya adalah sebuah daftar, oxford dictionary memberi ciri: katalog adalah suatu daftar yang disusun secara sistematis, misalnya menurut abjad dan biasanya dibubuhi penjelasan singkat atau ciri yang menunjukkan kedudukannya.
Sedangkan katalog perpustakaan artinya adalah: daftar buku atau bahan lain yang terkumpul di suatu perpustakaan/suatu koleksi; daftar ini disusun menurut suatu susunan yang mudah dikenali;berisi keterangan dari buku;disajikan dalam bentuk tertentu, yang dikatakan dengan susunan yang mudah dikenal adalah menurut abjad, atau menurut imbol klasifikasi dari subjek buku. Sedangkan yang dimaksud dengan keterangan dari buku adalah judul, pengarang, editor, pelukis, penterjemah, keterangan cetakan, imprint, lokasi dan lain sebagainya. Keterangan dari buku ini harus diberikan dalam bentuk dan susunan menurut peraturan katalogisasi.
Pengertian Katalogisasi
Katalogisasi atau pengatalogan adalah proses pembuatan katalog dimana dalam katalog dicantumkan data penting yang terkandung dalam bahan pustaka, baik ciri fisik maupun isi intelektual, seperti nama pengarang, judul buku, penerbit dan subyek. Jadi katalogisasi adalah proses pengambilan keputusan yang menuntut kemampuan mengintepretasikan dan menerapkan berbagai standar sehingga hal-hal penting dari bahan pustaka terekam menjadi katalog.
Pengatalogan adalah kegiatan menyiapkan pembuatan wakil ringkas dokumen (condensed representations) atau katalog, untuk digunakan sebagai sarana temu kembali, agar dokumen yang dicari dapat ditemukan dengan cepat dan tepat.
B. Tujuan Katalogisasi
Tujuan katalogisasi adalah merupakan sarana yang efisien membantu pengguna perpustakaan dalam memperoleh dokumen. Menurut Cutter (1876) tujuan katalog adalah sebagai berikut:
1. Memungkin seseorang mememukan sebuah buku yang diketahui berdasarkan
a. pengarang
b. judul atau
c. subyek
2. Menunjukan buku yang dimiliki perpustakaan
a. oleh pengarang tertentu
b. berdasarkan subyek tertentu, atau
c. dalam jenis literature tertentu
3. Membantu dalam pemilihan buku
a. berdasarkan edisinya
b. berdasarkan karakternya
C. Fungsi Katalogisasi
Fungsi katalogisasi secara umum adalah sebagai berikut :
1. Mencatat bahan pustaka yang ada di perpustakaan untuk memudahkan pengguna,
2. Mencari atau menelusur pustaka,
3. mempermudah pencarian buku dalam perpustakaan berdasarkan pengarang, judul dan subyek.
Adapun fungsi dari catalog adalah sebagai berikut :
a. Menunjukkan tempat suatu buku atau bahan lain dengan manggunakan symbol-simbol angka klasifikasi dalam bentuk nomor panggil,
b. Mendaftar semua buku dan bahan lain dalam susunan alfabetis nama pengarang, judul buku, atau subjek buku yang bersangkutan ke dalam satu tempat khusus perpustakaan untuk memudahkan pencarian entri-entri yang diperlukan,
c. Memberikan kemudahan untuk mencarisuatu buku atau bahan lain di perpustakaan dengan hanya salah satu dari daftar kelengkapan buku yang bersangkutan.
Katalog merupakan kunci untuk mengetahui isi koleksi dari perpustakaan itu sendiri, antara lain:
1. Untuk memberi gambaran yang jelas kepada pemakai jasa perpustakaan tentang koleksi buku-buku yang terdapat dan dimiliki oleh suatu perpustakaan,
2. Untuk menolong pemakai perpustakaan dalam mendapatkan buku yang diperlukan secara tepat dan cepat,
3. Agar para pengguna perpustakaan mudah mendapatkan bahan pustaka yang diinginkannya,
4. Sebagai sarana pemilihan buku yang tepat untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan,
5. Catalog berfungsi sebagai wakil buku yang memberikam keteerangan yang lengkap tentang ciri-ciri buku,
6. Catalog berfungsi sebagai “an instrument of communication “yang meninformasikan buku-buku perpustakaan .
D. Jenis - jenis Katalog
Ada beberapa bentuk katalog sesuai dengan perkembangan perpustakaan itu sendiri, diantaranya adalah sebagai berikut :
1. Katalog buku,
2. Katalog berkas, merupakan katalog kumpulan kertas,
3. Katalog kartu, yaitu kartu katalog berukuran 7,5 cm x 12,5 cm kemudian kartu katalog dijajarkan dalam laci catalog,
4. Katalog komputer (opac) yaitu katalog terbacakan komputer.
Beberapa jenis katalog berdasarkan bentuknya, seperti :
1. Katalog Pengarang
adalah semua nama pengarang buku, maka semua kartu catalog pengarang yang sudah terkumpul disusun menjadi abjad nama – nama pengarang masing - masing buku.
2. Katalog Judul
adalah catalog yang berbentuk kartu yang kata utamanya adalah judul
Buku. Kartu-kartu yang sudah terkumpul disusun menurut abjad judul masing- masing Buku.
Jenis-jenis catalog berdasarkan bentuk fisik adalah sebagai berikut :
a. Kartu katalog (card katalog)
Terbuat dari karton manila, dnegan ukuran internasional 7,5 x 12,5 c. dibagian tengah sebelah bawah diberi lobang, gunanya untuk pengikat supaya tidak mudah lepas dari susunannya, dalam penyimpanannya kartu-kartu ini disusun didalam laci dengan ukuran yang sesuai, dimana bagian luar dari laci tiket untuk tanda isi dari laci tersebut. Selanjutnya laci ini disimpan didalam almari katalog.
Diantara susunan kartu-kartu katalog tersebut diberi kartu penunjuk atau guide card, sebagai penolong untuk mempermudah mancari kartu yang dimaksud. Kartu katalog ini paling praktis didalam praktek, karena mudah menambah, mengurangi dan mengganti. Untuk perpustakaan yang sifatnya tertutup pemakaian bentuk ini kurang praktis, karena pemakai katalog akan berjejal didepan almari katalog.
b. Katalog berkas (sheap catalog)
Katalog ini merupakan lembaran lepas yang terbuat juga dari karton manila yang dijilid menjadi satu berkas, ukurannya bermacam-macam dan lebih besar dari katalog kartu. Bentuk ini praktis untuk perpustakaan sistem tertutup, karena yang mencari buku tidak berjejal dilemari katalog, katalog berkas bisa diperbanyak dalam beberapa buku.
c. Katalog buku (book catalog)
Ini dapat diketik, distensil atau dicetak berbentuk buku yang terdiri dari lembaran-lembaran kertas dimana terdapat uraian dari buku-buku perpustakaan tertentu. Katalog ini biasanya paling murah, dan dapat dibuat banyak dan dapat pula dijual. Hanya kesukarannya dalam penambahan, pengurangan dan perbaikan. Setiap kali katalog ini harus diperbaharui, supaya sesuai dengan keadaan.
Selain itu, catalog juga terdiri atas beberapa jenis yaitu :
a. Katalog Pengarang
Digunakan jika buku yang akan kita cari hanya diketahui nama pengarangnya. Atau ingin mengetahui pengarang tertentu telah mengarang buku apa saja. Katalog pengarang disusun sistematis berdasarkan nama pengarang suatu karya di dalam kabinet katalog. Penulisan nama pengarang adalah dengan cara menuliskan terlebih dahulu nama keluarga, contoh
b. Katalog Judul
Digunakan jika buku yang akan kita cari hanya diketahui judul bukunya. Atau ingin mengetahui judul buku tertentu yang sama telah dikarang oleh pengarang mana saja. Katalog judul disusun secara sistematis berdasarkan judul dalam kabinet katalog. Melalui katalog judul dapat diketahui judul-judul buku yang sama, yang dikarang oleh pengarang yang berbeda.
c. Katalog Subyek
Digunakan bila kita ingin mengetahui berbagai buku yang membahas subyek yang sama, biasanya sering digunakan dalam mengumpulkan bahan pustaka untuk kepentingan pembuatan penelitian, makalah dsb. yang membahas suatu subyek tertentu. Melalui katalog subyek akan diketahui karya-karya yang dikarang oleh berbagai pengarang dengan judul yang berbeda-beda tetapi memiliki pokok bahsan yang sama.
E. Prosedur Pengkatalogisasi
Kegiatan pengatalogan secara garis besar dapat dibagi ke dalam dua kegiatan:
1. Pengatalogan deskriptif, yang bertumpu pada fisik bahan pustaka (judul, pengarang, jumlah halaman, dll), kegiatannya berupa membuat deskripsi bibliografi, menentukan tajuk entri utama dan tambahan, pedomannya antara lain AACR dan ISBD.
2. Pengindeksan subyek, yang berdasar pada isi bahan pustaka (subyek atau topik yang dibahas), mengadakan analisis subyek dan menentukan notasi klasifikasi, pedomannya antara lain bagan klasifikasi, daftar tajuk subyek dan tesaurus. Kedua kegiatan ini menghasilkan cantuman bibliografi atau sering disebut katalog yang merupakan wakil ringkas bahan pustaka.
Sistem katalog dibedakan dari susunannya dalam laci katalog, yang terdiri dari:
1) Sistem katalog abjad,
- Katalog susunan abjad terpisah
a. Katalog pengarang (author catalog)
b. Katalog judul (title catalog)
c. Katalog subyek (subject catalog)
d. Katalog susunan ensiklopedi atau kamus (dictionary catalog)
yaitu catalog yang disusun menurut abjad pengarang, judul dan subyek dalam satu susunan.
2) Sistem katalog klasifikasi (classified catalog)
Merupakan suatu sistem katalog yang disusun menurut suatu bagian klasifikasi tertentu., terdiri dari tiga susunan yaitu:
a. Katalog pengarang judul disusun menurut abjad.
b. Katalog subyek disusun menurut urutan nomor-nomor klasifikasi tertentu.
Indek subyek yang menunjukkan notasi klasifikasi tertentu untuk suatu subyek, umumnya disusun menurut abjad.
Unsur-unsur yang terdapat dalam sebuah catalog Nama pengarang atau yang dianggap sebagai pengarang Judul buku Judul tambahan Imprint (impressum) untuk menyatakan kota penerbit, penerbit dan tahun terbit;
Kolasi untuk menyatakan jumlah halaman keterangan lain dan ukuran buku;
Nomor seri bila buku itu mempunyai nomor seri; Anotasi yang merupakan catatan; Tanda buku (call number)
DAFTAR PUSTAKA
Bafadal, Ibrahim. 2005. Pengelolaan Perpustakaan Sekolah. Jakarta: Bumi Aksara.
HASUGIAN Joner. 2003. KATALOG PERPUSTAKAAN Dari Katalog Manual Sampai
Katalog Online (OPAC). http://digilib.unnes.ac.id ( Diakses pada tanggal 17 Maret 2010)
Miswan. 2003. Klasifikasi dan Katalogisasi. http://gober31.multiply.com. ( Diakses pada tanggal
17 Maret 2010)
Yusuf, Pawit M dan Yahya Suhendra. 2007. Pedoman Penyelenggaraan Perpustaka-an Sekolah:
Jakarta. Kencana Prenada Media Group.
A. Pengertian
Pengertian Katalog
Katolog adalah daftar koleksi perpustakaan. Katolog bisa disusun berdasarkan alfabetis nama pengarang, judul, nama penerbit dan lain - lain tergantung pustakawan di sekolah masing-masing. Katalog merupakan kumpulan buku -buku yang sudah masuk kedalam perpustakaan.
Katalog adalah Presentasi ciri-ciri dari sebuah bahan pustaka atau dokumen (misalnya: judul, pengarang, deskripsi fisik, subyek, dll.) koleksi perpustakaan yang merupakan wakil ringkas bahan pustaka tersebut yang disusun secara sistematis.
Katalogisasi (cataloging): Kegiatan atau proses pembuatan wakil ringkas dari bahan pustaka atau dokumen (buku, majalah, CD-ROM, mikrofilm, dll.). Istilah ini kadang-kadang juga meliputi klasifikasi bahan pustaka dan secara umum penyiapan bahan pustaka untuk digunakan pemakai. Kadang-kadang disebut juga dengan istilah pengindeksan (indexing).
Katalogisasi atau pengatalogan adalah proses pembuatan katalog dimana dalam katalog dicantumkan data penting yang terkandung dalam bahan pustaka, baik ciri fisik maupun isi intelektual, seperti nama pengarang, judul buku, penerbit dan subyek. Jadi katalogisasi adalah proses pengambilan keputusan yang menuntut kemampuan mengintepretasikan dan menerapkan berbagai standar sehingga hal-hal penting dari bahan pustaka terekam menjadi katalog.
Katalog perpustakaan adalah deskripsi pustaka milik suatu perpustakaan yang disusun secara sistematis (sistematis abjad, nomor klasifikasi) sehingga dapat digunakan untuk mencari dan menemukan lokasi pustaka dengan mudah. Selain untuk alat bantu penelusuran koleksi, katalog dapat juga digunakan untuk mengetahui kekayaan koleksi suatu perpustakaan sebab kartu katalog mewakili buku-buku yang ada di rak yang dimiliki oleh suatu perpustakaan.
Salah satu pekerjaan teknis di perpustakaan adalah kerja “katalogisasi” ini adalah proses pembuatan kartu katalog. Katalogisasi berasal dari kata katalog yang artinya adalah sebuah daftar, oxford dictionary memberi ciri: katalog adalah suatu daftar yang disusun secara sistematis, misalnya menurut abjad dan biasanya dibubuhi penjelasan singkat atau ciri yang menunjukkan kedudukannya.
Sedangkan katalog perpustakaan artinya adalah: daftar buku atau bahan lain yang terkumpul di suatu perpustakaan/suatu koleksi; daftar ini disusun menurut suatu susunan yang mudah dikenali;berisi keterangan dari buku;disajikan dalam bentuk tertentu, yang dikatakan dengan susunan yang mudah dikenal adalah menurut abjad, atau menurut imbol klasifikasi dari subjek buku. Sedangkan yang dimaksud dengan keterangan dari buku adalah judul, pengarang, editor, pelukis, penterjemah, keterangan cetakan, imprint, lokasi dan lain sebagainya. Keterangan dari buku ini harus diberikan dalam bentuk dan susunan menurut peraturan katalogisasi.
Pengertian Katalogisasi
Katalogisasi atau pengatalogan adalah proses pembuatan katalog dimana dalam katalog dicantumkan data penting yang terkandung dalam bahan pustaka, baik ciri fisik maupun isi intelektual, seperti nama pengarang, judul buku, penerbit dan subyek. Jadi katalogisasi adalah proses pengambilan keputusan yang menuntut kemampuan mengintepretasikan dan menerapkan berbagai standar sehingga hal-hal penting dari bahan pustaka terekam menjadi katalog.
Pengatalogan adalah kegiatan menyiapkan pembuatan wakil ringkas dokumen (condensed representations) atau katalog, untuk digunakan sebagai sarana temu kembali, agar dokumen yang dicari dapat ditemukan dengan cepat dan tepat.
B. Tujuan Katalogisasi
Tujuan katalogisasi adalah merupakan sarana yang efisien membantu pengguna perpustakaan dalam memperoleh dokumen. Menurut Cutter (1876) tujuan katalog adalah sebagai berikut:
1. Memungkin seseorang mememukan sebuah buku yang diketahui berdasarkan
a. pengarang
b. judul atau
c. subyek
2. Menunjukan buku yang dimiliki perpustakaan
a. oleh pengarang tertentu
b. berdasarkan subyek tertentu, atau
c. dalam jenis literature tertentu
3. Membantu dalam pemilihan buku
a. berdasarkan edisinya
b. berdasarkan karakternya
C. Fungsi Katalogisasi
Fungsi katalogisasi secara umum adalah sebagai berikut :
1. Mencatat bahan pustaka yang ada di perpustakaan untuk memudahkan pengguna,
2. Mencari atau menelusur pustaka,
3. mempermudah pencarian buku dalam perpustakaan berdasarkan pengarang, judul dan subyek.
Adapun fungsi dari catalog adalah sebagai berikut :
a. Menunjukkan tempat suatu buku atau bahan lain dengan manggunakan symbol-simbol angka klasifikasi dalam bentuk nomor panggil,
b. Mendaftar semua buku dan bahan lain dalam susunan alfabetis nama pengarang, judul buku, atau subjek buku yang bersangkutan ke dalam satu tempat khusus perpustakaan untuk memudahkan pencarian entri-entri yang diperlukan,
c. Memberikan kemudahan untuk mencarisuatu buku atau bahan lain di perpustakaan dengan hanya salah satu dari daftar kelengkapan buku yang bersangkutan.
Katalog merupakan kunci untuk mengetahui isi koleksi dari perpustakaan itu sendiri, antara lain:
1. Untuk memberi gambaran yang jelas kepada pemakai jasa perpustakaan tentang koleksi buku-buku yang terdapat dan dimiliki oleh suatu perpustakaan,
2. Untuk menolong pemakai perpustakaan dalam mendapatkan buku yang diperlukan secara tepat dan cepat,
3. Agar para pengguna perpustakaan mudah mendapatkan bahan pustaka yang diinginkannya,
4. Sebagai sarana pemilihan buku yang tepat untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan,
5. Catalog berfungsi sebagai wakil buku yang memberikam keteerangan yang lengkap tentang ciri-ciri buku,
6. Catalog berfungsi sebagai “an instrument of communication “yang meninformasikan buku-buku perpustakaan .
D. Jenis - jenis Katalog
Ada beberapa bentuk katalog sesuai dengan perkembangan perpustakaan itu sendiri, diantaranya adalah sebagai berikut :
1. Katalog buku,
2. Katalog berkas, merupakan katalog kumpulan kertas,
3. Katalog kartu, yaitu kartu katalog berukuran 7,5 cm x 12,5 cm kemudian kartu katalog dijajarkan dalam laci catalog,
4. Katalog komputer (opac) yaitu katalog terbacakan komputer.
Beberapa jenis katalog berdasarkan bentuknya, seperti :
1. Katalog Pengarang
adalah semua nama pengarang buku, maka semua kartu catalog pengarang yang sudah terkumpul disusun menjadi abjad nama – nama pengarang masing - masing buku.
2. Katalog Judul
adalah catalog yang berbentuk kartu yang kata utamanya adalah judul
Buku. Kartu-kartu yang sudah terkumpul disusun menurut abjad judul masing- masing Buku.
Jenis-jenis catalog berdasarkan bentuk fisik adalah sebagai berikut :
a. Kartu katalog (card katalog)
Terbuat dari karton manila, dnegan ukuran internasional 7,5 x 12,5 c. dibagian tengah sebelah bawah diberi lobang, gunanya untuk pengikat supaya tidak mudah lepas dari susunannya, dalam penyimpanannya kartu-kartu ini disusun didalam laci dengan ukuran yang sesuai, dimana bagian luar dari laci tiket untuk tanda isi dari laci tersebut. Selanjutnya laci ini disimpan didalam almari katalog.
Diantara susunan kartu-kartu katalog tersebut diberi kartu penunjuk atau guide card, sebagai penolong untuk mempermudah mancari kartu yang dimaksud. Kartu katalog ini paling praktis didalam praktek, karena mudah menambah, mengurangi dan mengganti. Untuk perpustakaan yang sifatnya tertutup pemakaian bentuk ini kurang praktis, karena pemakai katalog akan berjejal didepan almari katalog.
b. Katalog berkas (sheap catalog)
Katalog ini merupakan lembaran lepas yang terbuat juga dari karton manila yang dijilid menjadi satu berkas, ukurannya bermacam-macam dan lebih besar dari katalog kartu. Bentuk ini praktis untuk perpustakaan sistem tertutup, karena yang mencari buku tidak berjejal dilemari katalog, katalog berkas bisa diperbanyak dalam beberapa buku.
c. Katalog buku (book catalog)
Ini dapat diketik, distensil atau dicetak berbentuk buku yang terdiri dari lembaran-lembaran kertas dimana terdapat uraian dari buku-buku perpustakaan tertentu. Katalog ini biasanya paling murah, dan dapat dibuat banyak dan dapat pula dijual. Hanya kesukarannya dalam penambahan, pengurangan dan perbaikan. Setiap kali katalog ini harus diperbaharui, supaya sesuai dengan keadaan.
Selain itu, catalog juga terdiri atas beberapa jenis yaitu :
a. Katalog Pengarang
Digunakan jika buku yang akan kita cari hanya diketahui nama pengarangnya. Atau ingin mengetahui pengarang tertentu telah mengarang buku apa saja. Katalog pengarang disusun sistematis berdasarkan nama pengarang suatu karya di dalam kabinet katalog. Penulisan nama pengarang adalah dengan cara menuliskan terlebih dahulu nama keluarga, contoh
b. Katalog Judul
Digunakan jika buku yang akan kita cari hanya diketahui judul bukunya. Atau ingin mengetahui judul buku tertentu yang sama telah dikarang oleh pengarang mana saja. Katalog judul disusun secara sistematis berdasarkan judul dalam kabinet katalog. Melalui katalog judul dapat diketahui judul-judul buku yang sama, yang dikarang oleh pengarang yang berbeda.
c. Katalog Subyek
Digunakan bila kita ingin mengetahui berbagai buku yang membahas subyek yang sama, biasanya sering digunakan dalam mengumpulkan bahan pustaka untuk kepentingan pembuatan penelitian, makalah dsb. yang membahas suatu subyek tertentu. Melalui katalog subyek akan diketahui karya-karya yang dikarang oleh berbagai pengarang dengan judul yang berbeda-beda tetapi memiliki pokok bahsan yang sama.
E. Prosedur Pengkatalogisasi
Kegiatan pengatalogan secara garis besar dapat dibagi ke dalam dua kegiatan:
1. Pengatalogan deskriptif, yang bertumpu pada fisik bahan pustaka (judul, pengarang, jumlah halaman, dll), kegiatannya berupa membuat deskripsi bibliografi, menentukan tajuk entri utama dan tambahan, pedomannya antara lain AACR dan ISBD.
2. Pengindeksan subyek, yang berdasar pada isi bahan pustaka (subyek atau topik yang dibahas), mengadakan analisis subyek dan menentukan notasi klasifikasi, pedomannya antara lain bagan klasifikasi, daftar tajuk subyek dan tesaurus. Kedua kegiatan ini menghasilkan cantuman bibliografi atau sering disebut katalog yang merupakan wakil ringkas bahan pustaka.
Sistem katalog dibedakan dari susunannya dalam laci katalog, yang terdiri dari:
1) Sistem katalog abjad,
- Katalog susunan abjad terpisah
a. Katalog pengarang (author catalog)
b. Katalog judul (title catalog)
c. Katalog subyek (subject catalog)
d. Katalog susunan ensiklopedi atau kamus (dictionary catalog)
yaitu catalog yang disusun menurut abjad pengarang, judul dan subyek dalam satu susunan.
2) Sistem katalog klasifikasi (classified catalog)
Merupakan suatu sistem katalog yang disusun menurut suatu bagian klasifikasi tertentu., terdiri dari tiga susunan yaitu:
a. Katalog pengarang judul disusun menurut abjad.
b. Katalog subyek disusun menurut urutan nomor-nomor klasifikasi tertentu.
Indek subyek yang menunjukkan notasi klasifikasi tertentu untuk suatu subyek, umumnya disusun menurut abjad.
Unsur-unsur yang terdapat dalam sebuah catalog Nama pengarang atau yang dianggap sebagai pengarang Judul buku Judul tambahan Imprint (impressum) untuk menyatakan kota penerbit, penerbit dan tahun terbit;
Kolasi untuk menyatakan jumlah halaman keterangan lain dan ukuran buku;
Nomor seri bila buku itu mempunyai nomor seri; Anotasi yang merupakan catatan; Tanda buku (call number)
DAFTAR PUSTAKA
Bafadal, Ibrahim. 2005. Pengelolaan Perpustakaan Sekolah. Jakarta: Bumi Aksara.
HASUGIAN Joner. 2003. KATALOG PERPUSTAKAAN Dari Katalog Manual Sampai
Katalog Online (OPAC). http://digilib.unnes.ac.id ( Diakses pada tanggal 17 Maret 2010)
Miswan. 2003. Klasifikasi dan Katalogisasi. http://gober31.multiply.com. ( Diakses pada tanggal
17 Maret 2010)
Yusuf, Pawit M dan Yahya Suhendra. 2007. Pedoman Penyelenggaraan Perpustaka-an Sekolah:
Jakarta. Kencana Prenada Media Group.
DESAIN PERPUS
DESAIN PERPUSTAKAAN
A. Penentuan Lokasi Gedung / Ruangan Perpustakaan
Gedung perpustakaan adalah bangunan yang diperuntukan bagi seluruh aktivitas sebuah perpustakaan. Disebut gedung apabila merupakan bangunan besar dan permanent, terpisah dari gedung lain sedangkan apabila hanya menempati sebagian dari sebuah gedung atau hanya sebuah bangunan (penggunan ruang kelas), relatif kecil disebut ruangan perpustakaan.
1. Penentuan Lokasi
Perpustakaan sekolah yang dilengkapi secara tepat hendaknya memiliki karakteristik sebagai berikut :
a. Rasa aman.
b. Pencahayaan yang baik.
c. Didisain untuk mengakomodasi perabotan yang kokoh, tahan lama dan fungsional, serta memenuhi peryaratan ruang, aktivitas dan pengguna perpustakaan.
d. Didisain untuk mengakomodasi perubahan pada program sekolah, program pengajaran , serta perkembangan teknologi audio, video dan data yang muncul.
e. Didisain untuk memungkinkan penggunaan, pemeliharaan serta pengamanan yang sesuai menyangkut perabotan, peralatan, alat tulis kantor dan materi.
f. Dirancang dan dikelola untuk menyediakan akses yang cepat dan tepat waktu ke aneka ragam koleksi sumber daya yang terorganisasi.
g. Dirancang dan dikelola sehingga secara estetis pengguna tertarik dan kondusif dalam hiburan serta pembelajaran, dengan panduan dan tandatanda yang jelas dan menarik.
Penentuan lokasi perpustakaan agar dapat maksumal pemanfaatannya harus dapat memenuhi kriteria diantaranya :
a. Berada ditempat yang luas tanahnya memungkinkan dilakukannya
perluasan pada masa yang akan datang, sesuai dengan perkembangan
perpustakaan.
b. Berada di sekitar pusat kegiatan masyarakat seperti pusat pendidikan (sekolah), pemerintahan dan tentunya pemukiman.
c. Merupakan gedung/satu ruangan utuh yang tidak bergabung dengan
ruangan lain.
d. Mudah dicapai oleh pemakai, sehingga pemakai tidak membuang-buang
waktu secara sia-sia.
e. Cukup tenang dan aman untuk menghindari dari gangguan suara keras
dan kegaduhan.
2. Ruangan Perpustakaan
Yang dimaksud dengan ruangan perpustakaan adalah tempat diselenggarakannya perpustakaan. Sebagian besar kegiatan-kegiatan perpustakaan berada dalam ruangan tersebut. Demikian pentingnya kedudukan ruangan perpustakaan sehingga banyak ahli yang memberikan batasan perpustakaan sebagai ruangan tempat dihimpunnya berbagai macam sumber informasi.
Ruangan perpustakaan merupakan salah satu faktor yang turut memperlancar pelaksanaan tugas-tugas pengelolaan perpustakaan. Tanpa ada ruangan tidak akan dapat menjalankan perpustakaan dengan berhasil.
Fungsi ruangan perpustakaan sekolah secara umum adalah untuk:
a. Tempat para petugas melakukan kegiatan-kegiatan perpustakaan, yakni menghimpun, mengolah dan kemudian melayankannya kepada pengguna.
b. Tempat menyimpan koleksi perpustakaan, baik yang fungsinya sebagai koleksi dasar pendukung kurikulum sekolah maupun koleksi penunjang.
c. Tempat dilaksanakannya kegiatan rutin layanan perpustakaan sekolah.
d. Tempat belajar secara bersama para siswa pada saat-saat tertentu.
Perpustakaan pada umumnya minimal memiliki 4 (empat) macam ruangan diantaranya :
1) Ruang koleksi buku
(rak-rak buku)1 rak (1 sisi, 5 susun, lebar 100 cm) dapat memuat 115-165 buku
eksemplar buku dan jarak antar rak 100-110 cm. Jadi dapat dihitung
berapa kebutuhan luas ruang yang diperlukan untuk menempatan rak dan
dapat disesuaikan dengan bahan pustaka yang dimiliki. Hal ini pun perlu
dipertimbangkan untuk tahun-tahun yang akan datang.
2) Ruang baca
Disesuaikan dengan ruang yang ada. Idealnya terpisah dari ruang koleksi dengan lulas yang mencukupi.
3) Ruang pengolahan bahan pustaka dan ruang Staf
Untuk melakukan aktifitas pengadaan dan pengolahan buku luas
ruangan tergantung berapa jumlah pengelola perpustakaan diperkirakan
setiap petugas memerlukan 2,5 m2.
4) Ruang sirkulasi
Ruang ini dipergunakan untuk melayani peminjaman dan pengembalian buku, ruang yang diperlukan minimal cukup untuk meletakkan meja sirkulasi dan perlengkapan lainnya.
Sesuai dengan fungsi-fungsi ruangan perpustakaan sekolah, maka luasnya pun sesuai dengan kebutuhan. Namun setidaknya memenuhi persyaratan sebagai berikut :
a) Ruangan untuk petugas
Petugas perpustakaan sekolah perlu disediakan ruangan secara khusus, setiadaknya disediakan tempat khusus dalam ruangan perpustakaan secara keseluruhan, agar dalam melaksanakan tugas kegiatannya tidak terganggu.
b) Ruangan untuk penyimpanan koleksi
Ruangan perpustakaan perlu ditata dan disusun secara teratur sesuai dengan sistem tertentu dalam ruangan yang khusus diperuntukan untuk itu. Misalnya ada ruangan koleksi yang bisa dipinjamkan, ruangan koleksi referens, ruangan khusus majalah / surat kabar dan ruangan lain yang diperlukan.
c) Ruangan untuk kegiatan pelayanan
Ruangan layananan ini meliputi ruangan untuk keperluan :
- Ruang untuk kegiatan layanan membaca
Ruangan ini diperlukan untuk kegiatan membaca dan belajar di perpustakaan. Luas ruangan disesuaikan dengan keperluan.
- Ruang untuk layanan referens
Ruangan ini diperlukan untuk menyimpan koleksi referens dan sekali-sekali untuk pelayanannya.
- Ruang untuk kegiatan layanan sirkulasi
Diperluakan untuk melaksanakan kegiatan layanan peminjaman koleksi.
Beberapa asas atau pedoman yang perlu diperhatikan pada waktu mendirikan gedung perpustakaan sekolah, atau dalam memilih salah satu ruang untuk kepentingan perpustakaan sekolah.
a. Fungsi utama perpustakaan sekolah adalah sebagai sumber belajar. Oleh karena itu gedung atau ruang perpustakaan sekolah berdekatan dengan kelas-kelas yang ada.
b. Gedung perpustakaan sekolah sebaiknya tidak jauh dari tempat parker.
c. Gedung atau ruang perpustakaan sekolah sebaiknya jauh dari kebisingan yang sekiranya mengganggu ketenangan murid-murid yang sedang belajar diperpustakaan sekolah.
d. Gedung atau ruang perpustakaan sekolah harus aman, baik dari bahaya kebakaran,kebanjiran, ataupun dari pencurian.
e. Gedung atau ruang perpustakaan sekolah sebaiknya ditempatkan dilokasi yang kemungkinannya mudah diperluas pada masa yang akan datang.
B. Peralatan perpustakaan
Peralatan perpustakaan adalah barang-barang yang diperlukan secara langsung dalam mengerjakan tugas/kegiatan di perpustakaan. Peralatan perpustakaan sekolah ada yang bersifat habis pakai dan ada pula yang bersifat tahan lama. Peralatan habis pakai adalah pealatan yang relatif cepat habis. Sedangkan peralatan tahan lama adalah peralatan yang dapat digunakan terus menerus dalam jangka waktu yang relatif lama.
a. Peralatan habis pakai
- Pena
- Kertas tipis untuk mengetik, membuat label buku, kantong buku, dan slip tanggal
- Kertas manila untuk membuat kartu katalog, dan dan kartu peminjaman
- Formulir pendaftaran
- Kertas bergaris untuk mancatat sesuatu
- Buku catatan
- Blangko surat
- Amplop bermacam-macam ukuran
- Buku inventaris bahan-bahan pustaka
- Buku inventaris peralatan perpustakaan
- Karbon
- Dan lain-lain
b. Pealatan tahan lama
- Mesin ketik
- Mesin stensil
- Mesin hitung
- Keranjang sampah
- Kotak surat
- Jam dinding
- Pisau
- Gunting
- Penggaris
- Bermacam-macam stempel
- Papan tulis
- Mesin genset
- Dan lain-lain
A. Penentuan Lokasi Gedung / Ruangan Perpustakaan
Gedung perpustakaan adalah bangunan yang diperuntukan bagi seluruh aktivitas sebuah perpustakaan. Disebut gedung apabila merupakan bangunan besar dan permanent, terpisah dari gedung lain sedangkan apabila hanya menempati sebagian dari sebuah gedung atau hanya sebuah bangunan (penggunan ruang kelas), relatif kecil disebut ruangan perpustakaan.
1. Penentuan Lokasi
Perpustakaan sekolah yang dilengkapi secara tepat hendaknya memiliki karakteristik sebagai berikut :
a. Rasa aman.
b. Pencahayaan yang baik.
c. Didisain untuk mengakomodasi perabotan yang kokoh, tahan lama dan fungsional, serta memenuhi peryaratan ruang, aktivitas dan pengguna perpustakaan.
d. Didisain untuk mengakomodasi perubahan pada program sekolah, program pengajaran , serta perkembangan teknologi audio, video dan data yang muncul.
e. Didisain untuk memungkinkan penggunaan, pemeliharaan serta pengamanan yang sesuai menyangkut perabotan, peralatan, alat tulis kantor dan materi.
f. Dirancang dan dikelola untuk menyediakan akses yang cepat dan tepat waktu ke aneka ragam koleksi sumber daya yang terorganisasi.
g. Dirancang dan dikelola sehingga secara estetis pengguna tertarik dan kondusif dalam hiburan serta pembelajaran, dengan panduan dan tandatanda yang jelas dan menarik.
Penentuan lokasi perpustakaan agar dapat maksumal pemanfaatannya harus dapat memenuhi kriteria diantaranya :
a. Berada ditempat yang luas tanahnya memungkinkan dilakukannya
perluasan pada masa yang akan datang, sesuai dengan perkembangan
perpustakaan.
b. Berada di sekitar pusat kegiatan masyarakat seperti pusat pendidikan (sekolah), pemerintahan dan tentunya pemukiman.
c. Merupakan gedung/satu ruangan utuh yang tidak bergabung dengan
ruangan lain.
d. Mudah dicapai oleh pemakai, sehingga pemakai tidak membuang-buang
waktu secara sia-sia.
e. Cukup tenang dan aman untuk menghindari dari gangguan suara keras
dan kegaduhan.
2. Ruangan Perpustakaan
Yang dimaksud dengan ruangan perpustakaan adalah tempat diselenggarakannya perpustakaan. Sebagian besar kegiatan-kegiatan perpustakaan berada dalam ruangan tersebut. Demikian pentingnya kedudukan ruangan perpustakaan sehingga banyak ahli yang memberikan batasan perpustakaan sebagai ruangan tempat dihimpunnya berbagai macam sumber informasi.
Ruangan perpustakaan merupakan salah satu faktor yang turut memperlancar pelaksanaan tugas-tugas pengelolaan perpustakaan. Tanpa ada ruangan tidak akan dapat menjalankan perpustakaan dengan berhasil.
Fungsi ruangan perpustakaan sekolah secara umum adalah untuk:
a. Tempat para petugas melakukan kegiatan-kegiatan perpustakaan, yakni menghimpun, mengolah dan kemudian melayankannya kepada pengguna.
b. Tempat menyimpan koleksi perpustakaan, baik yang fungsinya sebagai koleksi dasar pendukung kurikulum sekolah maupun koleksi penunjang.
c. Tempat dilaksanakannya kegiatan rutin layanan perpustakaan sekolah.
d. Tempat belajar secara bersama para siswa pada saat-saat tertentu.
Perpustakaan pada umumnya minimal memiliki 4 (empat) macam ruangan diantaranya :
1) Ruang koleksi buku
(rak-rak buku)1 rak (1 sisi, 5 susun, lebar 100 cm) dapat memuat 115-165 buku
eksemplar buku dan jarak antar rak 100-110 cm. Jadi dapat dihitung
berapa kebutuhan luas ruang yang diperlukan untuk menempatan rak dan
dapat disesuaikan dengan bahan pustaka yang dimiliki. Hal ini pun perlu
dipertimbangkan untuk tahun-tahun yang akan datang.
2) Ruang baca
Disesuaikan dengan ruang yang ada. Idealnya terpisah dari ruang koleksi dengan lulas yang mencukupi.
3) Ruang pengolahan bahan pustaka dan ruang Staf
Untuk melakukan aktifitas pengadaan dan pengolahan buku luas
ruangan tergantung berapa jumlah pengelola perpustakaan diperkirakan
setiap petugas memerlukan 2,5 m2.
4) Ruang sirkulasi
Ruang ini dipergunakan untuk melayani peminjaman dan pengembalian buku, ruang yang diperlukan minimal cukup untuk meletakkan meja sirkulasi dan perlengkapan lainnya.
Sesuai dengan fungsi-fungsi ruangan perpustakaan sekolah, maka luasnya pun sesuai dengan kebutuhan. Namun setidaknya memenuhi persyaratan sebagai berikut :
a) Ruangan untuk petugas
Petugas perpustakaan sekolah perlu disediakan ruangan secara khusus, setiadaknya disediakan tempat khusus dalam ruangan perpustakaan secara keseluruhan, agar dalam melaksanakan tugas kegiatannya tidak terganggu.
b) Ruangan untuk penyimpanan koleksi
Ruangan perpustakaan perlu ditata dan disusun secara teratur sesuai dengan sistem tertentu dalam ruangan yang khusus diperuntukan untuk itu. Misalnya ada ruangan koleksi yang bisa dipinjamkan, ruangan koleksi referens, ruangan khusus majalah / surat kabar dan ruangan lain yang diperlukan.
c) Ruangan untuk kegiatan pelayanan
Ruangan layananan ini meliputi ruangan untuk keperluan :
- Ruang untuk kegiatan layanan membaca
Ruangan ini diperlukan untuk kegiatan membaca dan belajar di perpustakaan. Luas ruangan disesuaikan dengan keperluan.
- Ruang untuk layanan referens
Ruangan ini diperlukan untuk menyimpan koleksi referens dan sekali-sekali untuk pelayanannya.
- Ruang untuk kegiatan layanan sirkulasi
Diperluakan untuk melaksanakan kegiatan layanan peminjaman koleksi.
Beberapa asas atau pedoman yang perlu diperhatikan pada waktu mendirikan gedung perpustakaan sekolah, atau dalam memilih salah satu ruang untuk kepentingan perpustakaan sekolah.
a. Fungsi utama perpustakaan sekolah adalah sebagai sumber belajar. Oleh karena itu gedung atau ruang perpustakaan sekolah berdekatan dengan kelas-kelas yang ada.
b. Gedung perpustakaan sekolah sebaiknya tidak jauh dari tempat parker.
c. Gedung atau ruang perpustakaan sekolah sebaiknya jauh dari kebisingan yang sekiranya mengganggu ketenangan murid-murid yang sedang belajar diperpustakaan sekolah.
d. Gedung atau ruang perpustakaan sekolah harus aman, baik dari bahaya kebakaran,kebanjiran, ataupun dari pencurian.
e. Gedung atau ruang perpustakaan sekolah sebaiknya ditempatkan dilokasi yang kemungkinannya mudah diperluas pada masa yang akan datang.
B. Peralatan perpustakaan
Peralatan perpustakaan adalah barang-barang yang diperlukan secara langsung dalam mengerjakan tugas/kegiatan di perpustakaan. Peralatan perpustakaan sekolah ada yang bersifat habis pakai dan ada pula yang bersifat tahan lama. Peralatan habis pakai adalah pealatan yang relatif cepat habis. Sedangkan peralatan tahan lama adalah peralatan yang dapat digunakan terus menerus dalam jangka waktu yang relatif lama.
a. Peralatan habis pakai
- Pena
- Kertas tipis untuk mengetik, membuat label buku, kantong buku, dan slip tanggal
- Kertas manila untuk membuat kartu katalog, dan dan kartu peminjaman
- Formulir pendaftaran
- Kertas bergaris untuk mancatat sesuatu
- Buku catatan
- Blangko surat
- Amplop bermacam-macam ukuran
- Buku inventaris bahan-bahan pustaka
- Buku inventaris peralatan perpustakaan
- Karbon
- Dan lain-lain
b. Pealatan tahan lama
- Mesin ketik
- Mesin stensil
- Mesin hitung
- Keranjang sampah
- Kotak surat
- Jam dinding
- Pisau
- Gunting
- Penggaris
- Bermacam-macam stempel
- Papan tulis
- Mesin genset
- Dan lain-lain
Senin, 21 Desember 2009
PENGERTIAN KONSEP DIRI
PENGERTIAN KONSEP DIRI
Menurut Burns (dalam Pudjijogyanti,1993:2) konsep diri adalah hubungan antara sikap dan keyakinan tentang diri kita sendiri, sedangkan menurut Rini (2004:1) konsep diri diartikan keyakinan, pandangan atau penilaian seseorang terhadap dirinya.
Cawagas ( dalam Pudjijogyanti,1993:2) konsep diri mencakup seluruh pandangan individu akan dimensi fisik, karakteristik pribadi, motivasi, kelemahan, kepandaian, kegagalan dan lain sebagainya.
Menurut William D Brooks (dalam Rahmat, 2003:99) konsep diri sebagai “those phsysical, social, and psycological perceptions of ourselves that we have derived from experiences and our interaction with others”. Jadi, konsep diri adalah pandangan dan perasaan tentang diri kita. Persepsi tentang diri ini boleh bersifat psikologi, sosial dan fisik.
Pietrosefa memberikan gambaran mengenai konsep diri yang diadaptasikan oleh Mappiarre (2002:69-70) yaitu dimensi pertama citra diri, yaitu diri dilihat oleh diri sendiri ; dimensi kedua citra diri, yaitu dilihat oleh orang lain, persepsi orang lain terhadap dirinya (“beginilah saya kira orang lain memandang saya”) ; dimensi ketiga citra diri, yaitu diri mengacu pada tipe-tipe orang yang saya kehendaki tentang diri saya (ideal self).
Konsep diri menurut Hurlock (1999:58) menyangkut gambaran fisik dan psikologis. Aspek fisik berkaitan dengan tampang atau penampakan lahiriah (appearance) anak, yang menyangkut kemenarikan dan ketidakmenarikan diri dan cocok atau tidaknya jenis kelamin dan pentingnya bagian-bagian tubuh yang berbeda serta prestise yang ada pada dirinya, sedangkan konsep diri yang bersifat psikologis berdasarkan pikiran, perasaan dan emosional. Hal ini berhubungan dengan kualitas dan abilitas yang memainkan peranan penting dalam penyesuaian dalam kehidupan, seperti keberanian, kejujuran, kemandirian, kepercayaan diri, aspirasi dan kemampuan diri dari tipe-tipe yang berbeda.
Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa konsep diri adalah kesadaran akan pandangan, pendapat, penilaian dan sikap seseorang terhadap dirinya sendiri yang meliputi fisik, diri pribadi, diri keluarga, diri sosial dan juga etik.
Menurut Burns (dalam Pudjijogyanti,1993:2) konsep diri adalah hubungan antara sikap dan keyakinan tentang diri kita sendiri, sedangkan menurut Rini (2004:1) konsep diri diartikan keyakinan, pandangan atau penilaian seseorang terhadap dirinya.
Cawagas ( dalam Pudjijogyanti,1993:2) konsep diri mencakup seluruh pandangan individu akan dimensi fisik, karakteristik pribadi, motivasi, kelemahan, kepandaian, kegagalan dan lain sebagainya.
Menurut William D Brooks (dalam Rahmat, 2003:99) konsep diri sebagai “those phsysical, social, and psycological perceptions of ourselves that we have derived from experiences and our interaction with others”. Jadi, konsep diri adalah pandangan dan perasaan tentang diri kita. Persepsi tentang diri ini boleh bersifat psikologi, sosial dan fisik.
Pietrosefa memberikan gambaran mengenai konsep diri yang diadaptasikan oleh Mappiarre (2002:69-70) yaitu dimensi pertama citra diri, yaitu diri dilihat oleh diri sendiri ; dimensi kedua citra diri, yaitu dilihat oleh orang lain, persepsi orang lain terhadap dirinya (“beginilah saya kira orang lain memandang saya”) ; dimensi ketiga citra diri, yaitu diri mengacu pada tipe-tipe orang yang saya kehendaki tentang diri saya (ideal self).
Konsep diri menurut Hurlock (1999:58) menyangkut gambaran fisik dan psikologis. Aspek fisik berkaitan dengan tampang atau penampakan lahiriah (appearance) anak, yang menyangkut kemenarikan dan ketidakmenarikan diri dan cocok atau tidaknya jenis kelamin dan pentingnya bagian-bagian tubuh yang berbeda serta prestise yang ada pada dirinya, sedangkan konsep diri yang bersifat psikologis berdasarkan pikiran, perasaan dan emosional. Hal ini berhubungan dengan kualitas dan abilitas yang memainkan peranan penting dalam penyesuaian dalam kehidupan, seperti keberanian, kejujuran, kemandirian, kepercayaan diri, aspirasi dan kemampuan diri dari tipe-tipe yang berbeda.
Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa konsep diri adalah kesadaran akan pandangan, pendapat, penilaian dan sikap seseorang terhadap dirinya sendiri yang meliputi fisik, diri pribadi, diri keluarga, diri sosial dan juga etik.
Kamis, 17 Desember 2009
PENDIDIKAN DAN PEMBANGUNAN NASIONAL
PENDIDIKAN DAN PEMBANGUNAN NASIONAL
A. Konsep Pembangunan Sebagai Usaha Perubahan Yang Terencana
Dalam GBHN, hakikat Pembangunan Nasional adalah pembangunan manusia dan masyarakat Indonesia, yang dilakukan secara berkelanjutan, berdasarkan kemampuan nasional, dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi serta memperhatikan tantangan global. Dalam pelaksanaannya mengacu pada kepribadian bangsa dan nilai luhur yang universal untuk mewujudkan kehidupan bangsa yang berdaulat, mandiri, berkeadilan, sejahtera, maju dan kokoh kekuatan moral dan etikanya serta religius.
Pembangunan yang dilaksanankan harus bertujuan dan bertolak dari manusianya, pemabangunan yang berakar dari peningkatan kualitas manusia dan masyarakat Indonesia, maka posisi manusia jelas sebagai objek dan subjek dalam pembangunan.
Manusia sebagai objek pembangunan sasarannya harus terarah pada pembangunan manusia itu sendiri (rohani) seperti : kemampuan penalaran, sikap diri, social pada lingkungan dan kemampuan berusaha. Fuad Hasan dalam Umar Tirtarhardja dkk., menyatakan “Manusia adalah makhluk yang terentang antara potensi dengan aktualisasi”. Manusia sebagai objek pembangunan diarahkan kepada kemampuan untuk mengelola dan memanfaatkan lingkungan secara dinamis, kreatif dan manusiawi, usaha inilah yang disebut pembangunan.
B. Peranan Manusia Dalam Pembangunan
Setiap pembangunan yang diaktualisasikan melalui pendidikan selalu berurusan dengan manusia, karena manusia yang dapat di didik dan membangun. Immanuel Kant menyatakan “Bayi bisa menjadi manusia bila berada di tengah-tengah manusia”. Oleh karena itu pembangunan harus diarahkan pada pembangunan manusianya sebagai satu-satunya makhluk di bumi ini yang dikarunia potensi untuk menyempurnakan diri walaupun tidak akan pernah tercapai.
Dr. Emil Salim (1987) menyatakan bahwa pembangunan harus didasarkan atas prinsip moral dan memuat pokok-pokok sebagai berikut:
1. Pembangunan adalah ibadah kepada Allah SWT sehingga perkembangan setiap penglihatan dan perilaku harus bersumber pada pengabdian diri kepada Allah SWT.
2. Pembangunan memuat kegiatan mengejar kemajuan lahiriah seperti : pendidikan, kebebasan dan keadilan.
3. Dalam melaksanakan pembangunan manusia memiliki tanggung jawab selaku pengelola di muka bumi, sehingga perbuatannya dapat diperhitungkan.
4. Pembangunan tertuju pada pembentukan manusia Indonesia seutuhnya yang memuat ciri keselarasan hubungan antara manusia dengan masyarakat lingkungannya.
5. Pembangunan adalah pembebasan diri manusia dari berbagai hambatan perbuatan manusia seperti kemiskinan, ketidak tahuan, ketidak adilan, ketidak bebasan dan ketimpangan social agar tercapai kualitas dan martabat manusia setinggi-tingginya.
Pembangunan Nasional yang dilaksanakan melalui jangkauan luas dan jauh berhasil tidaknya program pembangunan, yang amat berperan sekali adalah factor manusianya.
C. Peranan Pendidikan Dalam Pembangunan Nasional
Beberapa peranan pendidikan dalam Pembangunan Nasional berkenaan dengan perubahan masyarakat, pengembangan sumber daya manusia dan pemeliharaan lingkungan hidup.
1. Peranan pendidikan dalam pembangunan pada umumnya
Peranan pendidikan terhadap pembangunan dari berbagai segi, seperti :
a. Segi sasaran Pendidikan
Pendidikan adalah usaha sadar yang diarahkan kepada peserta didik upaya menjadi manusia yang memiliki kepribadian kuat dan utuh seperti memilki moral yang tinggi artinya tujuan citra manusia pendidikan adalah terwujudnya citra manusia yang menjadi sumber daya pembangunan secara manusiawi.
b. Lingkungan Pendidikan
Dalam lingkungan keluarga anak sebagai calon manusia pembangunan harus ditempa dengan baik tentang keterampilan, etika dan moral serta nilai-nilai agama. Hal ini merupakan landasan yang sangat diperlukan dalam pembangunan.
c. Lingkungan Sekolah
Dalam pendidikan formal (sekolah) peserta didik dibekali beberapa keterampilan dan pengetahuan sebagai bekal untuk kemampuan kerja, bekal ini merupakan sarana penunjang pembangunan dalam berbagai bidang.
d. Lingkungan Masyrakat
Di lingkungan masyarakat peserta didik memperoleh bekal praktis dalam berbagai jenis pekerjaan, khususnya bagi yang tidak memiliki kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, hal ini bertalian erat dengan perkembangan sector swasta dalam masyarakat sehingga mampu menunjang pembangunan.
e. Jenjang Pendidikan
Jenjang pendidikan dasar, menengah dan perguruan tinggi memberikan bekal bagi peserta didik secara terus menerus sekaligus merupakan basis pendidikan yang berkualitas.
Pengembangan system pendidikan nasional merupakan salah satu usaha untuk mewujudkan wawasan nusantara yang mencakup perwujudan kepulauan nusantara sebagai satu kesatuan politik, social budaya, ekonomi serta pertahanan dan keamanan. Oleh karena itu pembangunan tidak terbatas pada pembangunan ekonomi dan industri semata tetapi meliputi upaya-upaya yang beragam sesuai dengan keanekaragaman masalah dan rintangan kebutuhan suatu masyarakat.
2. Peranan pendidikan dalam pengembangan sumber daya manusia
Peranan pendidikan dalam pengembangan sumber daya manusia diantaranya :
a. Mencerdaskan kehidupan bangsa.
b. Membangun manusia sebagai pelaksanan transformasi.
c. Membina manusia menjadi tenaga produktif.
d. Membentuk kepribadian yang berorientasi kepada prestasi.
e. Memperhitungkan dimensi sumber daya manusia dan pengembangan lapangan kerja.
f. Merubah pola pikir masyarakat yang masih pada taraf rendah.
3. Peranan pendidikan dalam pemeliharaan lingkungan hidup
Secara umum yang dimaksud dengan lingkungan adalah segala benda, kondisi, keadaan yang mempengaruhi kehidupan makhluk, termasuk manusia. Untuk itu lingkungan hidup perlu ditata dan dimanfaatkan dengan penuh perhitungan agar dapat membawa makna bagi manusia sebagai pengelola sekaligus yang menikmati hasil lingkungan hidup itu sendiri.
Peranan pendidikan dalam pembangunan lingkungan hidup, sbb:
a. Memberi arahan pada manusia bahwa memelihara, mengelola dan melestarikan lingkungan hidup adalah suatu keharusan.
b. Memberikan bimbingan bahwa pengendalian alam harus bersifat rasional dan tidak merusak tata lingkungan hidup manusia.
c. Supaya pembangunan yang dilaksanakan dapat menjaga keseimbangan dan pembinaan ekosistem.
d. Untuk mengolah sumber daya alam manusia dapat memberikan manfaat bagi manusia.
e. Untuk menyelaraskan antara kebutuhan manusia dengan daya dukung alam yang ada.
f. Membudayakan pola hidup yang serasi dengan ekosistemnya.
D. Peranan Pendidikan Masa Mendatang
Peranan pendidikan adalah penggerak dari proses modernisasi dalam pembangunan nasional.
Skenario masyarakat Indonesia masa depan dalam rangka tujuan pembangunan nasional jangka panjang tahap kedua ialah mulai masuknya masyarakat Indonesia ke masyarakat industri.
Untuk menghadapi dasawarsa mendatang kita sudah mantap dalam menyiapkan sarana dan prasarana yang diperlukan untuk memasuki dunia industri.
Dilihat dari segi pendidikan sebagia bagian dari proses modernisasi fungsi pokok pendidikan mencakup dua tugas sekaligus, yaitu:
1. Pendidikan Sebagai Bagian dari Proses Perubahan
Ada dua gelombang utama yang melanda kehidupan umat manusia dalam dasawarsa mendatang, yaitu teknologi dan komunikasi. Kedua gelombang ini merupakan gelombang mundial yang mau tidak mau harus dihadapi oleh setiap manusia dan masyarakat.
Pendidikan harus dengan cermat mengetahui karakteristik dari gelombang tersebut agar dapat dipersiapkan upaya penanggulangan kekuatan-kekuatan yang mengikutinya atau memanfaatkannya untuk tujuan-tujuan positif.
Kemajuan teknologi komunikasi misalnya akan mengubah fungsi guru, begitu pula konsep mengenai pusat-pusat belajar. Keluarga sebagai salah satu pusat belajar akan mengubah secara mendasar fungsi keluarga dalam rangka pendidikan seumur hidup.
Namun, segi negatifnya antara lain ialah bahwa kemajuan teknologi akan membuka horizon sumber-sumber belajar hampir tidak terbatas sehingga dapat menggoyahkan pembentukan kepribadian seorang anak menjelang dewasa apabila sendi-sendi budaya tidak cukup berakar dalam pembinaan peserta didik itu.
Di sinilah letaknya arti pendidikan kebudayaan suatu bangsa dalam menyongsong abad kemajuan teknologi, khususnya teknologi komunikasi.
2. Pendidikan Sebagai ”watchdog” terhadap Proses Modernisasi
Menghadapi abad komunikasi yang mengubah sendi-sendi kehidupan bukan berarti pendidikan akan kehilangan peranannya.
Memang benar bahwa konsep-konsep pendidikan sekarang bakal tidak sesuai dalam menghadapi perubahan-perubahan sosial budaya yang akan terjadi. Juga bukan pula berarti bahwa pendidikan bakal merupakan variabel yang bebas sama sekali dalam menghadapi perubahan itu.
Pendidikan pada hakekatnya merupakan bentuk hubungan yang paling esensial dalam kehidupan manusia, oleh sebab itu fungsi pendidikan akan tetap langgeng dalam bentuk kehidupan sosial yang berubah. Dan sebagai bentuk lembaga sosial yang paling arkais, peranan budaya sangat dominan. Jadi, tidak mengherankan apabila pendidikan merupakan salah satu lembaga sosial yang paling konservatif dan statis.
E. Permasalahan dalam Pendidikan Nasional
Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 menyatakan bahwa tujuan Pendirian Negara Republik Indonesia antara lain adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Sejalan dengan itu pasal 3 UU No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa salah satu fungsi pendidikan nasional adalah untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.
Walaupun pembangunan pendidikan nasional yang dilaksanakan selama ini telah mencapai berbagai keberhasilan, namun masih menghadapi masalah dan tantangan yang cukup komplek.
Kurang optimalnya pelaksanaan system pendidikan (yang sebenarnya sudah cukup baik) di Indonesia yang disebabkan sulitnya menyediakan guru-guru berkompetensi untuk mengajar di daerah-daerah. Sebenarnya kurikulum Indonesia tidak kalah dengan kurikulum Negara maju, tetapi pelaksanaannya yang masih jauh dari optimal. Kurang sadarnya masyarakat mengenai betapa pentingnya pendidik dalam membentuk generasi mendatang sehingga profesi ini begitu dihargai.
System pendidikan yang sering berganti-ganti bukanlah masalah utama yang menjadi masalah utama adalah pelaksanaan di lapangan, kurang optimal. Terbatasnya fasilitas untuk pembelajaran baik bagi pelajar dan pengajar. Hal ini terkait terbatasnya dana pendidikan yang disediakan pemerintah.
Banyak sekali kegiatan yang dilakukan Depdiknas untuk meningkatkan kompetensi guru, tetapi tindak lanjut yang membuahkan hasil dari kegiatan semacam penataran, sosialisasi. Jadi terkesan yang penting kegiatan itu terlaksana selanjutnya, tanpa memperhatikan manfaat yang dapat diperoleh.
Jika kondisi semacam itu tidak diubah untuk dibenahi, kecil harapan pendidikan bisa lebih maju / baik. Maka pendidikan Indonesia sulit untuk maju. Selama ini kesan kuat bahwa pendidikan yang berkualitas mesti bermodal / berbiaya besar. Tapi oleh pemerintah itu tidak ditanggapi, kita lihat saja anggaran pendidikan dalam APBN itu. Padahal semua tahu bahwa pendidikan akan membaik jika gurunya berkompetensi dan cukup dana untuk memfasilitasi kegiatan pembelajaran.
Permasalahan pendidikan yang dimaksud telah diidentifikasi dan dirumuskan, yaitu meliputi :
• Masih rendahnya pemerataan dan akses pendidikan
• Masih rendahnya mutu, relevansi dan daya saing pendidikan, serta
• Masih lemahnya tatakelola, akuntabilitas, dan citra public pengelolaan pendidikan.
• Negara belum mampu melaksanakan amanat UUD yaitu 20% APBN untuk pendidikan.
• Sarana dan prasarana pendidikan yang tidak mendukung.
• Belum meratanya pendidikan yang layak bagi seluruh daerah di Indonesia.
• Belum sesuainya pendidikan dengan karakter daerah-daerah dan karakter Indonesia.
F. Beberapa solusi yang harus dilakukan dalam rangka Pembangunan Nasional di Indonesia :
Untuk mengatasi permasalahan yang masih dihadapi tersebut, Pemerintah telah merumuskan kebijakan umum pembangunan pendidikan nasional yaitu:
• Peningkatan pemerataan dan perluasan akses pendidikan.
• Peningkatan mutu, relevansi, dan daya saing pendidikan.
• Penguatan tata kelola, akuntabilitas, dan citra publik pengelolaan pendidikan.
• Menyiapkan guru-guru yang berkompetensi.
• Pemerintah harus dapat mengoptimalkan kinerja guru-guru berkompetensi untuk di tempatkan di daerah-daerah.
• Pemerintah harus lebih serius menyalurkan anggaran pendidikan ke sekolah-sekolah di daerah yang membutuhkan bantuan dana pendidikan untuk melengkapi sarana dan prasarana yang dibutuhkan, agar sekolah di daerah tersebut tidak lagi mengalami ketertinggalan.
• Membuat kurikulum pendidikan yang sesuai dengan karakter daerah-daerah di Indonesia, agar putra putri daerah tersebut dapat memanfaatkan SDA setempat dan memajukan daearahnya tersebut.
A. Konsep Pembangunan Sebagai Usaha Perubahan Yang Terencana
Dalam GBHN, hakikat Pembangunan Nasional adalah pembangunan manusia dan masyarakat Indonesia, yang dilakukan secara berkelanjutan, berdasarkan kemampuan nasional, dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi serta memperhatikan tantangan global. Dalam pelaksanaannya mengacu pada kepribadian bangsa dan nilai luhur yang universal untuk mewujudkan kehidupan bangsa yang berdaulat, mandiri, berkeadilan, sejahtera, maju dan kokoh kekuatan moral dan etikanya serta religius.
Pembangunan yang dilaksanankan harus bertujuan dan bertolak dari manusianya, pemabangunan yang berakar dari peningkatan kualitas manusia dan masyarakat Indonesia, maka posisi manusia jelas sebagai objek dan subjek dalam pembangunan.
Manusia sebagai objek pembangunan sasarannya harus terarah pada pembangunan manusia itu sendiri (rohani) seperti : kemampuan penalaran, sikap diri, social pada lingkungan dan kemampuan berusaha. Fuad Hasan dalam Umar Tirtarhardja dkk., menyatakan “Manusia adalah makhluk yang terentang antara potensi dengan aktualisasi”. Manusia sebagai objek pembangunan diarahkan kepada kemampuan untuk mengelola dan memanfaatkan lingkungan secara dinamis, kreatif dan manusiawi, usaha inilah yang disebut pembangunan.
B. Peranan Manusia Dalam Pembangunan
Setiap pembangunan yang diaktualisasikan melalui pendidikan selalu berurusan dengan manusia, karena manusia yang dapat di didik dan membangun. Immanuel Kant menyatakan “Bayi bisa menjadi manusia bila berada di tengah-tengah manusia”. Oleh karena itu pembangunan harus diarahkan pada pembangunan manusianya sebagai satu-satunya makhluk di bumi ini yang dikarunia potensi untuk menyempurnakan diri walaupun tidak akan pernah tercapai.
Dr. Emil Salim (1987) menyatakan bahwa pembangunan harus didasarkan atas prinsip moral dan memuat pokok-pokok sebagai berikut:
1. Pembangunan adalah ibadah kepada Allah SWT sehingga perkembangan setiap penglihatan dan perilaku harus bersumber pada pengabdian diri kepada Allah SWT.
2. Pembangunan memuat kegiatan mengejar kemajuan lahiriah seperti : pendidikan, kebebasan dan keadilan.
3. Dalam melaksanakan pembangunan manusia memiliki tanggung jawab selaku pengelola di muka bumi, sehingga perbuatannya dapat diperhitungkan.
4. Pembangunan tertuju pada pembentukan manusia Indonesia seutuhnya yang memuat ciri keselarasan hubungan antara manusia dengan masyarakat lingkungannya.
5. Pembangunan adalah pembebasan diri manusia dari berbagai hambatan perbuatan manusia seperti kemiskinan, ketidak tahuan, ketidak adilan, ketidak bebasan dan ketimpangan social agar tercapai kualitas dan martabat manusia setinggi-tingginya.
Pembangunan Nasional yang dilaksanakan melalui jangkauan luas dan jauh berhasil tidaknya program pembangunan, yang amat berperan sekali adalah factor manusianya.
C. Peranan Pendidikan Dalam Pembangunan Nasional
Beberapa peranan pendidikan dalam Pembangunan Nasional berkenaan dengan perubahan masyarakat, pengembangan sumber daya manusia dan pemeliharaan lingkungan hidup.
1. Peranan pendidikan dalam pembangunan pada umumnya
Peranan pendidikan terhadap pembangunan dari berbagai segi, seperti :
a. Segi sasaran Pendidikan
Pendidikan adalah usaha sadar yang diarahkan kepada peserta didik upaya menjadi manusia yang memiliki kepribadian kuat dan utuh seperti memilki moral yang tinggi artinya tujuan citra manusia pendidikan adalah terwujudnya citra manusia yang menjadi sumber daya pembangunan secara manusiawi.
b. Lingkungan Pendidikan
Dalam lingkungan keluarga anak sebagai calon manusia pembangunan harus ditempa dengan baik tentang keterampilan, etika dan moral serta nilai-nilai agama. Hal ini merupakan landasan yang sangat diperlukan dalam pembangunan.
c. Lingkungan Sekolah
Dalam pendidikan formal (sekolah) peserta didik dibekali beberapa keterampilan dan pengetahuan sebagai bekal untuk kemampuan kerja, bekal ini merupakan sarana penunjang pembangunan dalam berbagai bidang.
d. Lingkungan Masyrakat
Di lingkungan masyarakat peserta didik memperoleh bekal praktis dalam berbagai jenis pekerjaan, khususnya bagi yang tidak memiliki kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, hal ini bertalian erat dengan perkembangan sector swasta dalam masyarakat sehingga mampu menunjang pembangunan.
e. Jenjang Pendidikan
Jenjang pendidikan dasar, menengah dan perguruan tinggi memberikan bekal bagi peserta didik secara terus menerus sekaligus merupakan basis pendidikan yang berkualitas.
Pengembangan system pendidikan nasional merupakan salah satu usaha untuk mewujudkan wawasan nusantara yang mencakup perwujudan kepulauan nusantara sebagai satu kesatuan politik, social budaya, ekonomi serta pertahanan dan keamanan. Oleh karena itu pembangunan tidak terbatas pada pembangunan ekonomi dan industri semata tetapi meliputi upaya-upaya yang beragam sesuai dengan keanekaragaman masalah dan rintangan kebutuhan suatu masyarakat.
2. Peranan pendidikan dalam pengembangan sumber daya manusia
Peranan pendidikan dalam pengembangan sumber daya manusia diantaranya :
a. Mencerdaskan kehidupan bangsa.
b. Membangun manusia sebagai pelaksanan transformasi.
c. Membina manusia menjadi tenaga produktif.
d. Membentuk kepribadian yang berorientasi kepada prestasi.
e. Memperhitungkan dimensi sumber daya manusia dan pengembangan lapangan kerja.
f. Merubah pola pikir masyarakat yang masih pada taraf rendah.
3. Peranan pendidikan dalam pemeliharaan lingkungan hidup
Secara umum yang dimaksud dengan lingkungan adalah segala benda, kondisi, keadaan yang mempengaruhi kehidupan makhluk, termasuk manusia. Untuk itu lingkungan hidup perlu ditata dan dimanfaatkan dengan penuh perhitungan agar dapat membawa makna bagi manusia sebagai pengelola sekaligus yang menikmati hasil lingkungan hidup itu sendiri.
Peranan pendidikan dalam pembangunan lingkungan hidup, sbb:
a. Memberi arahan pada manusia bahwa memelihara, mengelola dan melestarikan lingkungan hidup adalah suatu keharusan.
b. Memberikan bimbingan bahwa pengendalian alam harus bersifat rasional dan tidak merusak tata lingkungan hidup manusia.
c. Supaya pembangunan yang dilaksanakan dapat menjaga keseimbangan dan pembinaan ekosistem.
d. Untuk mengolah sumber daya alam manusia dapat memberikan manfaat bagi manusia.
e. Untuk menyelaraskan antara kebutuhan manusia dengan daya dukung alam yang ada.
f. Membudayakan pola hidup yang serasi dengan ekosistemnya.
D. Peranan Pendidikan Masa Mendatang
Peranan pendidikan adalah penggerak dari proses modernisasi dalam pembangunan nasional.
Skenario masyarakat Indonesia masa depan dalam rangka tujuan pembangunan nasional jangka panjang tahap kedua ialah mulai masuknya masyarakat Indonesia ke masyarakat industri.
Untuk menghadapi dasawarsa mendatang kita sudah mantap dalam menyiapkan sarana dan prasarana yang diperlukan untuk memasuki dunia industri.
Dilihat dari segi pendidikan sebagia bagian dari proses modernisasi fungsi pokok pendidikan mencakup dua tugas sekaligus, yaitu:
1. Pendidikan Sebagai Bagian dari Proses Perubahan
Ada dua gelombang utama yang melanda kehidupan umat manusia dalam dasawarsa mendatang, yaitu teknologi dan komunikasi. Kedua gelombang ini merupakan gelombang mundial yang mau tidak mau harus dihadapi oleh setiap manusia dan masyarakat.
Pendidikan harus dengan cermat mengetahui karakteristik dari gelombang tersebut agar dapat dipersiapkan upaya penanggulangan kekuatan-kekuatan yang mengikutinya atau memanfaatkannya untuk tujuan-tujuan positif.
Kemajuan teknologi komunikasi misalnya akan mengubah fungsi guru, begitu pula konsep mengenai pusat-pusat belajar. Keluarga sebagai salah satu pusat belajar akan mengubah secara mendasar fungsi keluarga dalam rangka pendidikan seumur hidup.
Namun, segi negatifnya antara lain ialah bahwa kemajuan teknologi akan membuka horizon sumber-sumber belajar hampir tidak terbatas sehingga dapat menggoyahkan pembentukan kepribadian seorang anak menjelang dewasa apabila sendi-sendi budaya tidak cukup berakar dalam pembinaan peserta didik itu.
Di sinilah letaknya arti pendidikan kebudayaan suatu bangsa dalam menyongsong abad kemajuan teknologi, khususnya teknologi komunikasi.
2. Pendidikan Sebagai ”watchdog” terhadap Proses Modernisasi
Menghadapi abad komunikasi yang mengubah sendi-sendi kehidupan bukan berarti pendidikan akan kehilangan peranannya.
Memang benar bahwa konsep-konsep pendidikan sekarang bakal tidak sesuai dalam menghadapi perubahan-perubahan sosial budaya yang akan terjadi. Juga bukan pula berarti bahwa pendidikan bakal merupakan variabel yang bebas sama sekali dalam menghadapi perubahan itu.
Pendidikan pada hakekatnya merupakan bentuk hubungan yang paling esensial dalam kehidupan manusia, oleh sebab itu fungsi pendidikan akan tetap langgeng dalam bentuk kehidupan sosial yang berubah. Dan sebagai bentuk lembaga sosial yang paling arkais, peranan budaya sangat dominan. Jadi, tidak mengherankan apabila pendidikan merupakan salah satu lembaga sosial yang paling konservatif dan statis.
E. Permasalahan dalam Pendidikan Nasional
Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 menyatakan bahwa tujuan Pendirian Negara Republik Indonesia antara lain adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Sejalan dengan itu pasal 3 UU No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa salah satu fungsi pendidikan nasional adalah untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.
Walaupun pembangunan pendidikan nasional yang dilaksanakan selama ini telah mencapai berbagai keberhasilan, namun masih menghadapi masalah dan tantangan yang cukup komplek.
Kurang optimalnya pelaksanaan system pendidikan (yang sebenarnya sudah cukup baik) di Indonesia yang disebabkan sulitnya menyediakan guru-guru berkompetensi untuk mengajar di daerah-daerah. Sebenarnya kurikulum Indonesia tidak kalah dengan kurikulum Negara maju, tetapi pelaksanaannya yang masih jauh dari optimal. Kurang sadarnya masyarakat mengenai betapa pentingnya pendidik dalam membentuk generasi mendatang sehingga profesi ini begitu dihargai.
System pendidikan yang sering berganti-ganti bukanlah masalah utama yang menjadi masalah utama adalah pelaksanaan di lapangan, kurang optimal. Terbatasnya fasilitas untuk pembelajaran baik bagi pelajar dan pengajar. Hal ini terkait terbatasnya dana pendidikan yang disediakan pemerintah.
Banyak sekali kegiatan yang dilakukan Depdiknas untuk meningkatkan kompetensi guru, tetapi tindak lanjut yang membuahkan hasil dari kegiatan semacam penataran, sosialisasi. Jadi terkesan yang penting kegiatan itu terlaksana selanjutnya, tanpa memperhatikan manfaat yang dapat diperoleh.
Jika kondisi semacam itu tidak diubah untuk dibenahi, kecil harapan pendidikan bisa lebih maju / baik. Maka pendidikan Indonesia sulit untuk maju. Selama ini kesan kuat bahwa pendidikan yang berkualitas mesti bermodal / berbiaya besar. Tapi oleh pemerintah itu tidak ditanggapi, kita lihat saja anggaran pendidikan dalam APBN itu. Padahal semua tahu bahwa pendidikan akan membaik jika gurunya berkompetensi dan cukup dana untuk memfasilitasi kegiatan pembelajaran.
Permasalahan pendidikan yang dimaksud telah diidentifikasi dan dirumuskan, yaitu meliputi :
• Masih rendahnya pemerataan dan akses pendidikan
• Masih rendahnya mutu, relevansi dan daya saing pendidikan, serta
• Masih lemahnya tatakelola, akuntabilitas, dan citra public pengelolaan pendidikan.
• Negara belum mampu melaksanakan amanat UUD yaitu 20% APBN untuk pendidikan.
• Sarana dan prasarana pendidikan yang tidak mendukung.
• Belum meratanya pendidikan yang layak bagi seluruh daerah di Indonesia.
• Belum sesuainya pendidikan dengan karakter daerah-daerah dan karakter Indonesia.
F. Beberapa solusi yang harus dilakukan dalam rangka Pembangunan Nasional di Indonesia :
Untuk mengatasi permasalahan yang masih dihadapi tersebut, Pemerintah telah merumuskan kebijakan umum pembangunan pendidikan nasional yaitu:
• Peningkatan pemerataan dan perluasan akses pendidikan.
• Peningkatan mutu, relevansi, dan daya saing pendidikan.
• Penguatan tata kelola, akuntabilitas, dan citra publik pengelolaan pendidikan.
• Menyiapkan guru-guru yang berkompetensi.
• Pemerintah harus dapat mengoptimalkan kinerja guru-guru berkompetensi untuk di tempatkan di daerah-daerah.
• Pemerintah harus lebih serius menyalurkan anggaran pendidikan ke sekolah-sekolah di daerah yang membutuhkan bantuan dana pendidikan untuk melengkapi sarana dan prasarana yang dibutuhkan, agar sekolah di daerah tersebut tidak lagi mengalami ketertinggalan.
• Membuat kurikulum pendidikan yang sesuai dengan karakter daerah-daerah di Indonesia, agar putra putri daerah tersebut dapat memanfaatkan SDA setempat dan memajukan daearahnya tersebut.
BELAJAR BERMAKNA
A. Pengertian Teori Belajar Bermakna
Teori yang disampaikan oleh David Ausebel (1969). Beliau berpendapat bahwa guru harus dapat mengembangkan potensi kongitif siswa melalui proses belajar yang bermakna. Bermakna yaitu materi pelajaran yang baru match dengan konsep yang ada dalam struktur kognisi siswa.
Sama seperti Bruner dan Gagne, Ausebel beranggapan bahwa aktivitas belajar siswa, terutama meraka yang berada di tingkat pendidikan dasar akan bermanfaat kalau mereka banyak dilibatkan dalam kegiatan langsung. Namun siswa pada pendidikan lebih tinggi, maka kegiatan langsung akan menyita banyak waktu. Untuk mereka, lebih efektif kalau guru menggunakan penjelasan, peta konsep, demonstrasi, diagram dan ilustrasi.
Langkah-langkah yang biasanya dilakukan untuk menerapkan belajar bermakna Ausebel sebagai berikut :
1. Advance Organizer (Handout)
Penyampaian awal tentang materi yang akan dipelajari siswa diharapkan siswa secara mental akan siap untuk menerima materi kalau mereka mengatahui sebelumnya apa yang akan disampaikan guru.
2. Progressive Differensial
Materi pelajaran yang disampaikan guru hendaknya bertahap. Diawali dengan hal-hal atau konsep yang umum, kemudian dilanjutkan ke hal-hal yang khusus, disertai dengan contoh-contoh.
3. Integrative Reconciliation
Penjelasan yang diberikan oleh guru tentang kesamaan dan perbedaan konsep-konsep yang telah mereka ketahui dengan konsep yang baru saja dipelajari.
4. Consolidation
Pemantapan materi dalam bentuk menghadirkan lebih banyak contoh atau latihan sehingga siswa bisa lebih paham dan selanjutnya siap menerima materi baru.
Dalam aplikasinya menuntut siswa belajar secara deduktif (dari umum ke khusus) dan lebih mementingkan aspek struktur kognitif mahasiswa Menentukan tujuan-tujuan instruksional. Mengukur kesiapan siswa (minat, kemampuan, struktur kognitif)baik melalui tes awal, interviw, pertanyaan dll.
Memilih materi pelajaran dan mengaturnya dalam bentuk penyajian konsep-konsep kunci. Mengidentifikasikan prinsip-prinsip yang harus dikasi
siswa dari materi tsb. Menyajikan suatu pandangan secara menyelurh tentang
apa yang harus dipelajari Membuat dan menggunakan "advanced organizer" paling tidak dengan cara membuat rangkuman terhadap materi yang baru disajikan, dilengkapi dengan uraian singkat yang menunjukkan relevansi (keterkaiatan) materi yang sudah diberikan dengan yang akan diberikan.
Mengajar siswa untuk memahami konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang sudah ditentukan dengan member fokus pada hubungan yang terjalin antara konsep yang ada. Mengevaluasi proses dan hasil belajar, contohnya pada pelajaran kimia, materi pelajaran kimia bukanlah pengetahuan yang terpisah-pisah namun merupakan pengetahuan yang saling berkait antara pengetahuan yang satu dengan pengetahuan lainnya. untuk dapat menguasai materi kimia, seorang anak harus menguasai beberapa kemampuan dasar lebih dahulu.
Setelah itu, peserta didik harus mampu mengaitkan antara pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang sudah dipunyainya, sehingga proses pembelajarannya menjadi bermakna. Karenanya, Ausubel menyatakan hal berikut sebagaimana dikutip Orton (1987:34): “If I had to reduce all of educational psychology to just one principle, I would say this: The most important single factor influencing learning is what the learner already knows. Ascertain this and teach him accordingly.” Jelaslah bahwa pengetahuan yang sudah dimiliki siswa akan sangat menentukan berhasil tidaknya suatu proses pembelajaran.
B. . Teori belajar bermakna Ausabel dan penerapannya
Teori belajar Ausubel terkait dengan beberapa macam belajar. Terdapat empat macam belajar menurut Ausubel dengan dua dimensi yang terpisah. Dimensi pertama berhubungan dengan cara informasi (materi pelajaran) itu disajikan pada siswa yaitu belajar penerimaan (reception learning) dan belajar penemuan (discovery learning). Dimensi kedua ialah menyangkut cara bagaimana siswa dapat mengaitkan informasi itu pada struktur kognitif yang telah ada, dalam kaitannya dengan ini terdapat belajar hafalan (rote learning) dan belajar bermakna (meaningful learning).
Pada tingkat pertama dalam belajar, informasi dapat dikomunikasikan pada pelajar baik dengan bentuk belajar penerimaan yang menyajikan informasi itu dalam bentuk final, maupun dalam bentuk belajar penemuan yang mengharuskan siswa untuk menemukan sendiri sebagian atau seluruh informasi itu. Dalam tingkat kedua, siswa menghubungkan atau mengaitkan informasi itu pada pengetahuan yang telah dimilikinya, dalam hal ini terjadi belajar bermakna. Siswa juga dapat mencoba-coba menghafalkan informasi baru tanpa menghubungkannya pada konsep-konsep yang telah ada pada struktur kognitifnya, dalam hal ini terjadi belajar hafalan.
Kedua dimensi tidak menunjukkan dikotomi sederhana, melainkan merupakan suatu kontinuum seperti diperlihatkan pada gambar berikut:
Dimensi Belajar menurut Ausubel
Sepanjang kontinuum mendatar terdapat dari kiri ke kanan berkurangnya belajar penerimaan dan bertambahnya belajar penemuan, sedangkan sepanjang kontinuum vertikal terdapat dari bawah ke atas berkurangnya belajar hafalan dan bertambahnya belajar bermakna.
Banyak ahli pendidikan menyamakan belajar penerimaan dengan belajar hafalan sebab belajar bermakna hanya terjadi bila si pelajar menemukan sendiri pengetahuan. Namun berdasarkan gambar di atas belajar penerimaanpun dapat dibuat bermakna, yaitu dengan cara menjelaskan hubungan antara konsep-konsep. Sementara belajar penemuan rendah kebermaknaannya dan merupakan belajar hafalan bila memecahkan suatu masalah hanya dengan coba-coba, seperti menebak suatu teka-teki. Belajar penemuan yang sangat bermakna hanyalah penelitian yang bersifat ilmiah.
Belajar bermakna
Belajar bermakna merupakan suatu proses dikaitkannya informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang. Informasi disimpan di daerah-daerah tertentu dalam otak. Banyak sel otak yang terlibat dalam penyimpanan pengetahuan itu. Dengan berlangsungnya belajar, dihasilkan perubahan-perubahan dalam sel-sel otak. Dalam belajar bermakna informasi baru diasimilasikan pada subsumer-subsumer relevan yang telah ada dalam struktur kognitif.
Bila diinginkan belajar bermakna seperti yang dikemukakan Ausubel, dan bila belajar bermakna memerlukan konsep-konsep relevan dalam struktur kognitif yang disebut subsumer, pertanyaannya adalah :” dari mana datangnya subsumer?”
Pada anak-anak pembentukan konsep merupakan proses utama untuk memperoleh konsep-konsep. Pembentukan konsep adalah semacam belajar penemuan yang menyangkut baik pembentukan hipotesis dan pengujian hipotesis, maupun pembentukan generalisasi dari hal-hal yang khusus. Misalnya dengan berkali-kali dihadapkan pada benda yang disebut kursi, maka lambat laun anak akan menemukan kriteria bagi konsep kursi. Waktu usia masuk sekolah tiba, kebanyakan anak telah mempunyai kerangka konsep yang mengizinkan terjadinya belajar bermakna.
Belajar hafalan
Belajar hafalan terjadi jika dalam struktur kognitif seseorang tidak terdapat konsep-konsep relevan atau subsumer-subsumer yang relevan. Dalam belajar hafalan informasi baru tidak dapat diasimilasikan dengan konsep-konsep yang telah ada dalam struktur kognitif.
Dengan demikian sama sekali tidak terjadi interaksi antara informasi baru dengan informasi yang telah disimpan dalam struktur kognitif.
Beberapa Kebaikan Dari Belajar Bermakna
Menurut Ausubel belajar bermakna memiliki beberapa kebaikan sebagai berikut:
1. Informasi yang dipelajari secara bermakna lebih tahan lama.
2. Informasi yang tersubsumpsi memudahkan proses belajar berikutnya tentang materi yang mirip.
3. Bila unsur yang tersubsumpsi tidak dapat lagi dipanggil dari memori, jadi sudah dilupakan, menurut Ausubel terjadi subsumpsi obliteratif (subsumpsi yang telah rusak).
Menerapkan Teori Ausubel dalam Pembelajaran
1) Diferensiasi Progressif
Menurut Ausubel dalam satu seri pelajaran siswa hendaknya diperkenalkan terlebih dahulu pada konsep-konsep yang paling umum atau inklusif, kemudian berangsur-angsur menjadi konsep-konsep yang lebih khusus, dengan kata lain dari umum ke khusus. Proses penyusunan semacam ini disebut diferensiasi progresif.
Suatu contoh hierarki konseptual yang berdasarkan Diferensiasi Progressif seperti digambarkan pada gambar berikut
Kegiatan 1: Berikan satu contoh penerapan differensiasi progressif dalam pembelajaran konsep-konsep Kimia.
2) Rekonsiliasi Integratif
Menurut konsep rekonsiliasi integratif dalam mengajar, konsep-konsep perlu diintegrasikan dan disesuaikan dengan konsep-konsep yang telah dipelajari sebelumnya. Dengan kata lain guru hendaknya menunjukkan pada siswa bagaimana konsep dan prinsip tersebut saling berkaitan.
Sebagai contoh hubungan rekonsiliasi integratif dapat digambarkan sebagai berikut:
Kegiatan 2: Berikan satu contoh penerapan rekkonsiliasi integratif dalam pembelajaran konsep-konsep Kimia.
3) Peta Konsep
Peta konsep memperlihatkan bagaimana konsep-konsep saling dikaitkan. Untuk menyusun suatu peta konsep dibutuhkan konsep-konsep atau kejadian-kejadian dan kata penghubung.
Peta konsep memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1. Pemetaan konsep ialah suatu cara untuk memperlihatkan konsep-konsep dan susunan atau organisasi suatu bidang studi.
2. Suatu peta konsep merupakan suatu gambar dua dimensi dari suatu disiplin.
3. Berkaitan dengan bobot, tidak semua konsep mempunyai bobot yang sama. Ini berarti bahwa ada beberapa konsep yang lebih inklusif daripada yang lain. Jadi konsep yang paling inklusif terdapat di puncak, lalu menurun hingga konsep yang paling khusus atau contoh-contoh.
4. Bila dua atau lebih konsep digambarkan di bawah konsep yang lebih inklusif, terbentuklah suatu hirarki pada peta konsep itu.
Karena belajar bermakna lebih mudah berlangsung bila konsep-konsep baru dikaitkan pada konsep yang lebih inklusif, maka peta konsep harus disusun secara hirarki. Ini berarti bahwa konsep yang lebih inklusif ada di puncak peta. Makin ke bawah konsep-konsep diurutkan makin menjadi lebih khusus.
Untuk menyusun suatu peta konsep ada beberapa langkah yang harus diikuti:
1. Pilihlah suatu bacaan dari buku pelajaran.
2. Tentukan konsep-konsep yang relevan.
3. Urutkan konsep-konsep itu dari yang paling inklusif ke paling tidak inklusif atau contoh-contoh.
4. Susunlah konsep-konsep itu di kertas.
5. Hubungkan konsep-konsep itu dengan kata-kata penghubung.
Teori yang disampaikan oleh David Ausebel (1969). Beliau berpendapat bahwa guru harus dapat mengembangkan potensi kongitif siswa melalui proses belajar yang bermakna. Bermakna yaitu materi pelajaran yang baru match dengan konsep yang ada dalam struktur kognisi siswa.
Sama seperti Bruner dan Gagne, Ausebel beranggapan bahwa aktivitas belajar siswa, terutama meraka yang berada di tingkat pendidikan dasar akan bermanfaat kalau mereka banyak dilibatkan dalam kegiatan langsung. Namun siswa pada pendidikan lebih tinggi, maka kegiatan langsung akan menyita banyak waktu. Untuk mereka, lebih efektif kalau guru menggunakan penjelasan, peta konsep, demonstrasi, diagram dan ilustrasi.
Langkah-langkah yang biasanya dilakukan untuk menerapkan belajar bermakna Ausebel sebagai berikut :
1. Advance Organizer (Handout)
Penyampaian awal tentang materi yang akan dipelajari siswa diharapkan siswa secara mental akan siap untuk menerima materi kalau mereka mengatahui sebelumnya apa yang akan disampaikan guru.
2. Progressive Differensial
Materi pelajaran yang disampaikan guru hendaknya bertahap. Diawali dengan hal-hal atau konsep yang umum, kemudian dilanjutkan ke hal-hal yang khusus, disertai dengan contoh-contoh.
3. Integrative Reconciliation
Penjelasan yang diberikan oleh guru tentang kesamaan dan perbedaan konsep-konsep yang telah mereka ketahui dengan konsep yang baru saja dipelajari.
4. Consolidation
Pemantapan materi dalam bentuk menghadirkan lebih banyak contoh atau latihan sehingga siswa bisa lebih paham dan selanjutnya siap menerima materi baru.
Dalam aplikasinya menuntut siswa belajar secara deduktif (dari umum ke khusus) dan lebih mementingkan aspek struktur kognitif mahasiswa Menentukan tujuan-tujuan instruksional. Mengukur kesiapan siswa (minat, kemampuan, struktur kognitif)baik melalui tes awal, interviw, pertanyaan dll.
Memilih materi pelajaran dan mengaturnya dalam bentuk penyajian konsep-konsep kunci. Mengidentifikasikan prinsip-prinsip yang harus dikasi
siswa dari materi tsb. Menyajikan suatu pandangan secara menyelurh tentang
apa yang harus dipelajari Membuat dan menggunakan "advanced organizer" paling tidak dengan cara membuat rangkuman terhadap materi yang baru disajikan, dilengkapi dengan uraian singkat yang menunjukkan relevansi (keterkaiatan) materi yang sudah diberikan dengan yang akan diberikan.
Mengajar siswa untuk memahami konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang sudah ditentukan dengan member fokus pada hubungan yang terjalin antara konsep yang ada. Mengevaluasi proses dan hasil belajar, contohnya pada pelajaran kimia, materi pelajaran kimia bukanlah pengetahuan yang terpisah-pisah namun merupakan pengetahuan yang saling berkait antara pengetahuan yang satu dengan pengetahuan lainnya. untuk dapat menguasai materi kimia, seorang anak harus menguasai beberapa kemampuan dasar lebih dahulu.
Setelah itu, peserta didik harus mampu mengaitkan antara pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang sudah dipunyainya, sehingga proses pembelajarannya menjadi bermakna. Karenanya, Ausubel menyatakan hal berikut sebagaimana dikutip Orton (1987:34): “If I had to reduce all of educational psychology to just one principle, I would say this: The most important single factor influencing learning is what the learner already knows. Ascertain this and teach him accordingly.” Jelaslah bahwa pengetahuan yang sudah dimiliki siswa akan sangat menentukan berhasil tidaknya suatu proses pembelajaran.
B. . Teori belajar bermakna Ausabel dan penerapannya
Teori belajar Ausubel terkait dengan beberapa macam belajar. Terdapat empat macam belajar menurut Ausubel dengan dua dimensi yang terpisah. Dimensi pertama berhubungan dengan cara informasi (materi pelajaran) itu disajikan pada siswa yaitu belajar penerimaan (reception learning) dan belajar penemuan (discovery learning). Dimensi kedua ialah menyangkut cara bagaimana siswa dapat mengaitkan informasi itu pada struktur kognitif yang telah ada, dalam kaitannya dengan ini terdapat belajar hafalan (rote learning) dan belajar bermakna (meaningful learning).
Pada tingkat pertama dalam belajar, informasi dapat dikomunikasikan pada pelajar baik dengan bentuk belajar penerimaan yang menyajikan informasi itu dalam bentuk final, maupun dalam bentuk belajar penemuan yang mengharuskan siswa untuk menemukan sendiri sebagian atau seluruh informasi itu. Dalam tingkat kedua, siswa menghubungkan atau mengaitkan informasi itu pada pengetahuan yang telah dimilikinya, dalam hal ini terjadi belajar bermakna. Siswa juga dapat mencoba-coba menghafalkan informasi baru tanpa menghubungkannya pada konsep-konsep yang telah ada pada struktur kognitifnya, dalam hal ini terjadi belajar hafalan.
Kedua dimensi tidak menunjukkan dikotomi sederhana, melainkan merupakan suatu kontinuum seperti diperlihatkan pada gambar berikut:
Dimensi Belajar menurut Ausubel
Sepanjang kontinuum mendatar terdapat dari kiri ke kanan berkurangnya belajar penerimaan dan bertambahnya belajar penemuan, sedangkan sepanjang kontinuum vertikal terdapat dari bawah ke atas berkurangnya belajar hafalan dan bertambahnya belajar bermakna.
Banyak ahli pendidikan menyamakan belajar penerimaan dengan belajar hafalan sebab belajar bermakna hanya terjadi bila si pelajar menemukan sendiri pengetahuan. Namun berdasarkan gambar di atas belajar penerimaanpun dapat dibuat bermakna, yaitu dengan cara menjelaskan hubungan antara konsep-konsep. Sementara belajar penemuan rendah kebermaknaannya dan merupakan belajar hafalan bila memecahkan suatu masalah hanya dengan coba-coba, seperti menebak suatu teka-teki. Belajar penemuan yang sangat bermakna hanyalah penelitian yang bersifat ilmiah.
Belajar bermakna
Belajar bermakna merupakan suatu proses dikaitkannya informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang. Informasi disimpan di daerah-daerah tertentu dalam otak. Banyak sel otak yang terlibat dalam penyimpanan pengetahuan itu. Dengan berlangsungnya belajar, dihasilkan perubahan-perubahan dalam sel-sel otak. Dalam belajar bermakna informasi baru diasimilasikan pada subsumer-subsumer relevan yang telah ada dalam struktur kognitif.
Bila diinginkan belajar bermakna seperti yang dikemukakan Ausubel, dan bila belajar bermakna memerlukan konsep-konsep relevan dalam struktur kognitif yang disebut subsumer, pertanyaannya adalah :” dari mana datangnya subsumer?”
Pada anak-anak pembentukan konsep merupakan proses utama untuk memperoleh konsep-konsep. Pembentukan konsep adalah semacam belajar penemuan yang menyangkut baik pembentukan hipotesis dan pengujian hipotesis, maupun pembentukan generalisasi dari hal-hal yang khusus. Misalnya dengan berkali-kali dihadapkan pada benda yang disebut kursi, maka lambat laun anak akan menemukan kriteria bagi konsep kursi. Waktu usia masuk sekolah tiba, kebanyakan anak telah mempunyai kerangka konsep yang mengizinkan terjadinya belajar bermakna.
Belajar hafalan
Belajar hafalan terjadi jika dalam struktur kognitif seseorang tidak terdapat konsep-konsep relevan atau subsumer-subsumer yang relevan. Dalam belajar hafalan informasi baru tidak dapat diasimilasikan dengan konsep-konsep yang telah ada dalam struktur kognitif.
Dengan demikian sama sekali tidak terjadi interaksi antara informasi baru dengan informasi yang telah disimpan dalam struktur kognitif.
Beberapa Kebaikan Dari Belajar Bermakna
Menurut Ausubel belajar bermakna memiliki beberapa kebaikan sebagai berikut:
1. Informasi yang dipelajari secara bermakna lebih tahan lama.
2. Informasi yang tersubsumpsi memudahkan proses belajar berikutnya tentang materi yang mirip.
3. Bila unsur yang tersubsumpsi tidak dapat lagi dipanggil dari memori, jadi sudah dilupakan, menurut Ausubel terjadi subsumpsi obliteratif (subsumpsi yang telah rusak).
Menerapkan Teori Ausubel dalam Pembelajaran
1) Diferensiasi Progressif
Menurut Ausubel dalam satu seri pelajaran siswa hendaknya diperkenalkan terlebih dahulu pada konsep-konsep yang paling umum atau inklusif, kemudian berangsur-angsur menjadi konsep-konsep yang lebih khusus, dengan kata lain dari umum ke khusus. Proses penyusunan semacam ini disebut diferensiasi progresif.
Suatu contoh hierarki konseptual yang berdasarkan Diferensiasi Progressif seperti digambarkan pada gambar berikut
Kegiatan 1: Berikan satu contoh penerapan differensiasi progressif dalam pembelajaran konsep-konsep Kimia.
2) Rekonsiliasi Integratif
Menurut konsep rekonsiliasi integratif dalam mengajar, konsep-konsep perlu diintegrasikan dan disesuaikan dengan konsep-konsep yang telah dipelajari sebelumnya. Dengan kata lain guru hendaknya menunjukkan pada siswa bagaimana konsep dan prinsip tersebut saling berkaitan.
Sebagai contoh hubungan rekonsiliasi integratif dapat digambarkan sebagai berikut:
Kegiatan 2: Berikan satu contoh penerapan rekkonsiliasi integratif dalam pembelajaran konsep-konsep Kimia.
3) Peta Konsep
Peta konsep memperlihatkan bagaimana konsep-konsep saling dikaitkan. Untuk menyusun suatu peta konsep dibutuhkan konsep-konsep atau kejadian-kejadian dan kata penghubung.
Peta konsep memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1. Pemetaan konsep ialah suatu cara untuk memperlihatkan konsep-konsep dan susunan atau organisasi suatu bidang studi.
2. Suatu peta konsep merupakan suatu gambar dua dimensi dari suatu disiplin.
3. Berkaitan dengan bobot, tidak semua konsep mempunyai bobot yang sama. Ini berarti bahwa ada beberapa konsep yang lebih inklusif daripada yang lain. Jadi konsep yang paling inklusif terdapat di puncak, lalu menurun hingga konsep yang paling khusus atau contoh-contoh.
4. Bila dua atau lebih konsep digambarkan di bawah konsep yang lebih inklusif, terbentuklah suatu hirarki pada peta konsep itu.
Karena belajar bermakna lebih mudah berlangsung bila konsep-konsep baru dikaitkan pada konsep yang lebih inklusif, maka peta konsep harus disusun secara hirarki. Ini berarti bahwa konsep yang lebih inklusif ada di puncak peta. Makin ke bawah konsep-konsep diurutkan makin menjadi lebih khusus.
Untuk menyusun suatu peta konsep ada beberapa langkah yang harus diikuti:
1. Pilihlah suatu bacaan dari buku pelajaran.
2. Tentukan konsep-konsep yang relevan.
3. Urutkan konsep-konsep itu dari yang paling inklusif ke paling tidak inklusif atau contoh-contoh.
4. Susunlah konsep-konsep itu di kertas.
5. Hubungkan konsep-konsep itu dengan kata-kata penghubung.
BAKAT KHUSUS
BAKAT KHUSUS
A. Pengertian Bakat Khusus
Istilah bakat adalah suatu karakteristik unik individu yang membuatnya mampu melakukan aktivitas dan tugas secara mudah dan sukses. Dari keterangan ini dapat dicontohkan bahwa burung punya bakat terbang, ikan untuk berenang, dan harimau berlari kencang dan berburu.
Bakat ditentukan oleh banyak hal, heriditer (faktor genetik) selalu memegang peranan walaupun bukan satu-satunya yang terpenting, training (latihan)
Sejumlah ahli mengemukakan pengertian bakat sesuai dengan sudut pandangnya masing-masing :
a. S.C. Utami Munadar (1985)
Bakat pada umumnya diartikan sebagai kemampuan bawaan, sebagai potensi yang masih perlu dikembangkan dan dilatih agar dapat terwujud.
Berbeda dengan bakat “kemampuan” merupakan daya untuk melakukan suatu tindakan sebagai hasil dari pembawaan dan latihan.
Kemampuan menunjukan tindakan dapat dilakukan sekarang, sedangkan bakat memerlukan latihan dan pendidikan agar suatu tindakan dapat dilakukan dimasa yang akan datang. Bakat dan kemampuan menentukan prestasi seseorang. Orang berbakat matimatika diperkirakan akan mampu mencapai prestasi tinggi dalam bidang matimatika. Jadi “prestasi”merupakan perwujudan bakat dan kemampuan. Presatasi yang menonjol dalam salah satu bidang mencerminkan bakat yang unggul dalam bidang tersebut,begitu juga sebaliknya.
b. Kartini Kartono (1979)
Bakat adalah mencakup segala faktor yang ada pada individu sejak awal pertama dari kehidupan nya, yang kemudian menumbuhkan perkembangan keahlian,kecakapan,dan keterampilan khusus tertentu.Bakat bersifat laten potensial (dalam arti dapat mekar berkembang) sepanjang hidup manusia dan dapat diaktifkan potensinya. Potensi-potensi yang terpendam dan masih tetap itu dapat dibuat aktif.
c. Suganda Pubakawatja
Bakat sebagai “Benih dari suatu sifat, yang baru akan nampak nyata, jika mendapat kesempatan atau kemungkinan untuk berkembangan”.
d. Dyke Bingham (dalam Ny. Moesono;1989)
Bakat adalah suatu kondisi atau seranagkaian karakteristik dari kemampuan seseorang untuk memcapai sesuatu dengan sedikit latihan (khusus) mangenai pengetahuan, keterampilan, atau serangkaian, respon misalnya kemampuan berbahasa, mengarang lagu, dll.
e. Sarlito Wirawan Sarwono (1979)
Bakat adalah kondisi dalam diri seseoarang yang memungkinkannya dengan suatu latihan khusus mencapai kecakapan, penetahuan dan keterampilan khusus.
Berdasarkan pendapat para ahli tersebut ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Bakat meruakan kemampuan bawaan, sebagai potensi yang masih perlu dikembangkan dan dilatih agar dapat terwujud.
2. Bakat tidaklah diturunkan semata, tetapi merupakan interaksi dari faktor keturuan dan factor lingkungan, artinya dibawa sejak lahir berupa potensi dan berkembang melalui proses belajar,dan memiliki ciri khusus..
3. Orang yang berbakat dalam bidang tertentu diperkirakan akan mampu mencapai prestasi tinggi dalam bidang itu. Jadi prestasi sebagai perwujudan bakat dan kemampuan.
4. Bakat mencakup ciri-ciri lain yang dapat memberi kondisi atau suasana memungkinkan bakat tersebut terealisasi, termasuk intelegensi, kepribadian, interes, dan keterampilan khusus. “Bakat adalah suatu kapasitas untuk belajar sesuatu” arti kapasitas adalah potensi kemampuan untuk berkembang.
B. Jenis-jenis Bakat Khusus
Setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda sesuai dengan potensi yang ada pada dirinya. Potensi yang dimiliki individu ada yang bersifat umum dan ada yang khusus. Intelegensi termasuk kemampuan umum, sedangkan kemampuan khusus mengacu kepada bakat yang dimiliki individu yang biasanya disebut dengan bakat khusus. Bakat khusus adalah seperangkat nilai yang dianggap sebagai tanda kemampuan individu untuk menerima latihan atau respon, seperti kemampuan berbahasa, musik, berhitung, mekanik, olahraga, dan sebagainya.
Raven (dalam Pali, 1995) mengelompokkan bakat khusus seseorang sebagai berikut : bakat pemahaman verbal, kemampuan numerical, skolastik, bakat kerani (kesekretariatan), pemahaman mekanik, tilikan (pandangan) ruang atau berpikir 3 dimensi, dan bakat bahasa.
Selanjutnya ditinjau dari cara berfungsinya, Ny. Moesono (1979) mengemukakan bahwa bakat dapat dikelompokkan menjadi 2 bagian, yaitu :
a. Bakat kemahiran atau kemampuan mengenai bidang pekerjaan yang khusus seperti bakat musik, bakat menari, olahraga (sepakbola, senam), dan sebagainya.
b. Bakat khusus tertentu yang diperlukan sebagai perantara untuk merealisir kemampuan tertentu, misalnya bakat melihat ruang (dimensi) yang diperlukan untuk merealisir bakat insinyur, bakat berhitung untuk merealisir bakat sebagai ahli statistik atau akuntansi, bakat verbal untuk merealisisr baakt sebagai wartawan atau penulis novel, bakat bahasa untuk merealisir bakat orator dan penceramah.
Bakat bukanlah sifat tunggal, melainkan sekelompok sifat-sifat yang secara bertingkat membentuk bakat.
C. Hubungan Antara Bakat Khusus dengan Kreativitas
Dari hasil-hasil penelitian Keberbakatan dan Anak Berbakat, Renzulli dkk. (1981) menarik kesimpulan bahwa yang menentukan keberbakatan seseorang adalah pada hakekatnya tiga kelompok (cluster) ciri-ciri, yaitu : kemampuan di atas rata-rata, kreativitas, pengikatan diri (tanggung jawab terhadap tugas). Seseorang yang berbakat adalah seseorang yang memiliki ketiga ciri tersebut. Kreativitas sebagai kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru, sebagai kemampuan untuk memberikan gagasan-gagasan baru yang dapat diterapkan dalam pemecahan masalah atau sebagai kemampuan untuk melihat hubungan-hubungan baru antara unsur-unsur yang sudah ada sebelumnya, adalah sama pentingnya.
Kreativitas merupakan salah satu ciri dari perilaku yang berbakat karena kreativitas juga merupakan manifestasi dari suatu proses pengembangan bakat. Meskipun demikian, hubungan antara kreativitas dan bakat tidak selalu menunjukkan bukti-bukti yang memuaskan. Bakat yang rendah memang diikuti oleh tingkat kreativitas yang rendah pula. Namun semakin tinggi bakat seseorang, tidak selalu diikuti tingkat kreativitas yang tinggi pula. Hal ini tergantung pada proses perkembangan bakat yang harusnya disertai dengan proses perkembangan kreativitas.
D. Hubungan Bakat Khusus dengan Prestasi Akademik
Inteligensi merupakan suatu konsep mengenai kemampuan umum individu dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Dalam kemampuan yang umum ini, terdapat kemampuan-kemampuan yang amat spesifik. Kemampuan-kemampuan yang spesifik ini memberikan pada individu suatu kondisi yang memungkinkan tercapainya pengetahuan, kecakapan, atau keterampilan tertentu setelah melalui suatu latihan. Inilah yang disebut Bakat. Karena suatu tes inteligensi tidak dirancang untuk menyingkap kemampuan-kemampuan khusus ini, maka bakat tidak dapat segera diketahui lewat tes inteligensi.
Adapun yang dimaksud dengan anak berbakat adalah mereka yang karena memiliki kemampuan-kemampuan yang unggul dan mampu memberikan prestasi yang tinggi. Anak-anak ini membutuhkan program pendidikan yang berdeferensiasi atau pelayanan yang di luar jangkauan program sekolah biasa, agar dapat mewujudkan bakat-bakat mereka secara optimal, baik bagi pengembangan diri maupun untuk dapat memberikan sumbangan yang bermakna bagi kemajuan masyarakat dan negara. Bakat-bakat tersebut baik sebagai potensi maupun yang sudah terwujud meliputi : kemampuan intelektual umum, kemampuan berpikir kreatif-produktif, kemampuan dalam salah satu bidang seni, kemampuan psikomotor, kemampuan psikososial seperti bakat kepemimpinan.
Keberbakatan itu meliputi bermacam-macam bidang, namun biasanya seseorang mempunyai bakat istimewa dalam salah satu bidang saja. Dan tidak pada semua bidang. Misalnya : Si A menonjol dalam matematika, tetapi tidak dalam bidang seni. Si B menunjukkan kemampuan memimpin, tetapi prestasi akademiknya tidak terlalu menonjol. Hal ini kadang-kadang dilupakan oleh pendidik. Mereka menganggap bahwa seseorang telah diidentifikasi sebagai berbakat harus menonjol dalam semua bidang. Selanjutnya perumusan tersebut menekankan bahwa anak berbakat mampu memberikan prestasi yang tinggi. Mampu belum tentu terwujud. Contoh, ada anak-anak yang sudah dapat mewujudkan bakat mereka yang unggul, tetapi ada pula yang belum. Bakat memerlukan pendidikan dalam latihan agar dapat terampil dalam prestasi yang unggul.
E. Usaha-usaha Guru untuk Mengembangkan Bakat Khusus
Sekolah merupakan salah satu lembaga sosial yang diharapkan dapat membantu anak-anak mencapai prestasi pendidikan yang baik. Namun disamping sekolah, orang tua memiliki peran yang sangat berarti dalam mengembangkan bakat anak. Dipercaya bahwa adanya peran pengasuhan yang baik cenderung membuka peluang lebih besar bagi anak-anak untuk mengembangkan bakatnya sesuai dengan minat anak. Peran pola asuh keluarga yang dilandasi kasih sayang, dan disertai pemberian stimulasi (perangsangan) yang cukup dan sesuai dipercaya dapat melahirkan anak-anak yang berbakat.
Kerja sama antara sekolah dan orang tua sangat dibutuhkan. Para orang tua bagi anak-anak yang berprestasi tinggi memberikan pola asuh yang baik disertai kehangatan, selanjutnya para guru memberikan pelatihan yang baik.
Bakat bersifat potensial yang memerlukan pengembangan. Untuk pengembangan bakat ada sejumlah hal yang harus dilakukan oleh para guru, antara lain adalah :
a. Perkaya anak dengan macam-macam pengalaman, dan membangun motivasi belajar. Dengan cara ini anak akan dapat menemukan dimana dia berbakat.
b. Dorong atau rangsanglah anak untuk meluaskan kemampuannya, setelah anak mengarang, anjurkan dia untuk mengambarkannya.
c. Bersimpati atau bersama-sama melakukan kegiatan dengan anak.
d. Berilah penghargaan atau pujian atas usaha yang dilakukannya sekecil apapun usaha tersebut.
e. Sediakanlah sarana yang memadai untuk pengembangan bakat anak.
Beberapa cara yang bisa dilakukan orang tua untuk membantu pengembangan bakat anak adalah :
a. Patoklah prestasi akademis yang tinggi namun realistis buat anak.
b. Tanamkanlah rasa optimis kepada mereka bahwa mereka bisa mencapainya.
c. Bicara dan bermain dengan anak, untuk meningkatkan kemampuan komunikasi.
d. Berceritalah mengenai berbagai peristiwa yang sedang terjadi, apa saja yang terjadi di lingkungan sekitar. Saat berbicara mengenai rutinitas harian Anda, jelaskan apa yang Anda lakukan dan mengapa. Doronglah anak untuk bertanya untuk Anda jawab, atau bisa juga bantu dia untuk menjawabnya sendiri.
e. Perhatikan apa yang mereka suka lakukan, seperti hobi menggambar, melukis, atau menggunakan angka-angka. Bantu mereka mengembangkan kesukaan itu, dan cari tahu bagaimana mereka bisa mengikuti lomba di lingkungan sekitar atau di tingkat kota.
f. Bawa anak ke tempat-tempat dimana mereka bisa mempelajari hal baru, seperti pentas musik, museum atau galeri seni.
g. Cari anggota keluarga yang bisa menjadi mentor membantu anak mengembangkan bakat mereka.
Namun, ada hal-hal yang Orang tua hendaknya waspada akan diri mereka apakah mereka memberikan respon sungguh terhadap kebutuhan anak ataukah hanya memberikan respon kepada bakat yang dimiliki anak. Tidak sedikit orang tua yang salah dalam hal ini, yaitu adakalanya orang tua menyadari anak mereka berbakat lantas secara menggebu-gebu memaksa anakya mengikuti latihan-latihan dengan program yang sangat ketat. Dorongan seperti ini lambat laun akan membuat anak menyadari bahwa orang tua mereka lebih berminat pada bakat yang mereka miliki daripada memperhatikan kesejahteraan dan kebahagiaan diri mereka selaku anak-anaknya.
A. Pengertian Bakat Khusus
Istilah bakat adalah suatu karakteristik unik individu yang membuatnya mampu melakukan aktivitas dan tugas secara mudah dan sukses. Dari keterangan ini dapat dicontohkan bahwa burung punya bakat terbang, ikan untuk berenang, dan harimau berlari kencang dan berburu.
Bakat ditentukan oleh banyak hal, heriditer (faktor genetik) selalu memegang peranan walaupun bukan satu-satunya yang terpenting, training (latihan)
Sejumlah ahli mengemukakan pengertian bakat sesuai dengan sudut pandangnya masing-masing :
a. S.C. Utami Munadar (1985)
Bakat pada umumnya diartikan sebagai kemampuan bawaan, sebagai potensi yang masih perlu dikembangkan dan dilatih agar dapat terwujud.
Berbeda dengan bakat “kemampuan” merupakan daya untuk melakukan suatu tindakan sebagai hasil dari pembawaan dan latihan.
Kemampuan menunjukan tindakan dapat dilakukan sekarang, sedangkan bakat memerlukan latihan dan pendidikan agar suatu tindakan dapat dilakukan dimasa yang akan datang. Bakat dan kemampuan menentukan prestasi seseorang. Orang berbakat matimatika diperkirakan akan mampu mencapai prestasi tinggi dalam bidang matimatika. Jadi “prestasi”merupakan perwujudan bakat dan kemampuan. Presatasi yang menonjol dalam salah satu bidang mencerminkan bakat yang unggul dalam bidang tersebut,begitu juga sebaliknya.
b. Kartini Kartono (1979)
Bakat adalah mencakup segala faktor yang ada pada individu sejak awal pertama dari kehidupan nya, yang kemudian menumbuhkan perkembangan keahlian,kecakapan,dan keterampilan khusus tertentu.Bakat bersifat laten potensial (dalam arti dapat mekar berkembang) sepanjang hidup manusia dan dapat diaktifkan potensinya. Potensi-potensi yang terpendam dan masih tetap itu dapat dibuat aktif.
c. Suganda Pubakawatja
Bakat sebagai “Benih dari suatu sifat, yang baru akan nampak nyata, jika mendapat kesempatan atau kemungkinan untuk berkembangan”.
d. Dyke Bingham (dalam Ny. Moesono;1989)
Bakat adalah suatu kondisi atau seranagkaian karakteristik dari kemampuan seseorang untuk memcapai sesuatu dengan sedikit latihan (khusus) mangenai pengetahuan, keterampilan, atau serangkaian, respon misalnya kemampuan berbahasa, mengarang lagu, dll.
e. Sarlito Wirawan Sarwono (1979)
Bakat adalah kondisi dalam diri seseoarang yang memungkinkannya dengan suatu latihan khusus mencapai kecakapan, penetahuan dan keterampilan khusus.
Berdasarkan pendapat para ahli tersebut ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Bakat meruakan kemampuan bawaan, sebagai potensi yang masih perlu dikembangkan dan dilatih agar dapat terwujud.
2. Bakat tidaklah diturunkan semata, tetapi merupakan interaksi dari faktor keturuan dan factor lingkungan, artinya dibawa sejak lahir berupa potensi dan berkembang melalui proses belajar,dan memiliki ciri khusus..
3. Orang yang berbakat dalam bidang tertentu diperkirakan akan mampu mencapai prestasi tinggi dalam bidang itu. Jadi prestasi sebagai perwujudan bakat dan kemampuan.
4. Bakat mencakup ciri-ciri lain yang dapat memberi kondisi atau suasana memungkinkan bakat tersebut terealisasi, termasuk intelegensi, kepribadian, interes, dan keterampilan khusus. “Bakat adalah suatu kapasitas untuk belajar sesuatu” arti kapasitas adalah potensi kemampuan untuk berkembang.
B. Jenis-jenis Bakat Khusus
Setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda sesuai dengan potensi yang ada pada dirinya. Potensi yang dimiliki individu ada yang bersifat umum dan ada yang khusus. Intelegensi termasuk kemampuan umum, sedangkan kemampuan khusus mengacu kepada bakat yang dimiliki individu yang biasanya disebut dengan bakat khusus. Bakat khusus adalah seperangkat nilai yang dianggap sebagai tanda kemampuan individu untuk menerima latihan atau respon, seperti kemampuan berbahasa, musik, berhitung, mekanik, olahraga, dan sebagainya.
Raven (dalam Pali, 1995) mengelompokkan bakat khusus seseorang sebagai berikut : bakat pemahaman verbal, kemampuan numerical, skolastik, bakat kerani (kesekretariatan), pemahaman mekanik, tilikan (pandangan) ruang atau berpikir 3 dimensi, dan bakat bahasa.
Selanjutnya ditinjau dari cara berfungsinya, Ny. Moesono (1979) mengemukakan bahwa bakat dapat dikelompokkan menjadi 2 bagian, yaitu :
a. Bakat kemahiran atau kemampuan mengenai bidang pekerjaan yang khusus seperti bakat musik, bakat menari, olahraga (sepakbola, senam), dan sebagainya.
b. Bakat khusus tertentu yang diperlukan sebagai perantara untuk merealisir kemampuan tertentu, misalnya bakat melihat ruang (dimensi) yang diperlukan untuk merealisir bakat insinyur, bakat berhitung untuk merealisir bakat sebagai ahli statistik atau akuntansi, bakat verbal untuk merealisisr baakt sebagai wartawan atau penulis novel, bakat bahasa untuk merealisir bakat orator dan penceramah.
Bakat bukanlah sifat tunggal, melainkan sekelompok sifat-sifat yang secara bertingkat membentuk bakat.
C. Hubungan Antara Bakat Khusus dengan Kreativitas
Dari hasil-hasil penelitian Keberbakatan dan Anak Berbakat, Renzulli dkk. (1981) menarik kesimpulan bahwa yang menentukan keberbakatan seseorang adalah pada hakekatnya tiga kelompok (cluster) ciri-ciri, yaitu : kemampuan di atas rata-rata, kreativitas, pengikatan diri (tanggung jawab terhadap tugas). Seseorang yang berbakat adalah seseorang yang memiliki ketiga ciri tersebut. Kreativitas sebagai kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru, sebagai kemampuan untuk memberikan gagasan-gagasan baru yang dapat diterapkan dalam pemecahan masalah atau sebagai kemampuan untuk melihat hubungan-hubungan baru antara unsur-unsur yang sudah ada sebelumnya, adalah sama pentingnya.
Kreativitas merupakan salah satu ciri dari perilaku yang berbakat karena kreativitas juga merupakan manifestasi dari suatu proses pengembangan bakat. Meskipun demikian, hubungan antara kreativitas dan bakat tidak selalu menunjukkan bukti-bukti yang memuaskan. Bakat yang rendah memang diikuti oleh tingkat kreativitas yang rendah pula. Namun semakin tinggi bakat seseorang, tidak selalu diikuti tingkat kreativitas yang tinggi pula. Hal ini tergantung pada proses perkembangan bakat yang harusnya disertai dengan proses perkembangan kreativitas.
D. Hubungan Bakat Khusus dengan Prestasi Akademik
Inteligensi merupakan suatu konsep mengenai kemampuan umum individu dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Dalam kemampuan yang umum ini, terdapat kemampuan-kemampuan yang amat spesifik. Kemampuan-kemampuan yang spesifik ini memberikan pada individu suatu kondisi yang memungkinkan tercapainya pengetahuan, kecakapan, atau keterampilan tertentu setelah melalui suatu latihan. Inilah yang disebut Bakat. Karena suatu tes inteligensi tidak dirancang untuk menyingkap kemampuan-kemampuan khusus ini, maka bakat tidak dapat segera diketahui lewat tes inteligensi.
Adapun yang dimaksud dengan anak berbakat adalah mereka yang karena memiliki kemampuan-kemampuan yang unggul dan mampu memberikan prestasi yang tinggi. Anak-anak ini membutuhkan program pendidikan yang berdeferensiasi atau pelayanan yang di luar jangkauan program sekolah biasa, agar dapat mewujudkan bakat-bakat mereka secara optimal, baik bagi pengembangan diri maupun untuk dapat memberikan sumbangan yang bermakna bagi kemajuan masyarakat dan negara. Bakat-bakat tersebut baik sebagai potensi maupun yang sudah terwujud meliputi : kemampuan intelektual umum, kemampuan berpikir kreatif-produktif, kemampuan dalam salah satu bidang seni, kemampuan psikomotor, kemampuan psikososial seperti bakat kepemimpinan.
Keberbakatan itu meliputi bermacam-macam bidang, namun biasanya seseorang mempunyai bakat istimewa dalam salah satu bidang saja. Dan tidak pada semua bidang. Misalnya : Si A menonjol dalam matematika, tetapi tidak dalam bidang seni. Si B menunjukkan kemampuan memimpin, tetapi prestasi akademiknya tidak terlalu menonjol. Hal ini kadang-kadang dilupakan oleh pendidik. Mereka menganggap bahwa seseorang telah diidentifikasi sebagai berbakat harus menonjol dalam semua bidang. Selanjutnya perumusan tersebut menekankan bahwa anak berbakat mampu memberikan prestasi yang tinggi. Mampu belum tentu terwujud. Contoh, ada anak-anak yang sudah dapat mewujudkan bakat mereka yang unggul, tetapi ada pula yang belum. Bakat memerlukan pendidikan dalam latihan agar dapat terampil dalam prestasi yang unggul.
E. Usaha-usaha Guru untuk Mengembangkan Bakat Khusus
Sekolah merupakan salah satu lembaga sosial yang diharapkan dapat membantu anak-anak mencapai prestasi pendidikan yang baik. Namun disamping sekolah, orang tua memiliki peran yang sangat berarti dalam mengembangkan bakat anak. Dipercaya bahwa adanya peran pengasuhan yang baik cenderung membuka peluang lebih besar bagi anak-anak untuk mengembangkan bakatnya sesuai dengan minat anak. Peran pola asuh keluarga yang dilandasi kasih sayang, dan disertai pemberian stimulasi (perangsangan) yang cukup dan sesuai dipercaya dapat melahirkan anak-anak yang berbakat.
Kerja sama antara sekolah dan orang tua sangat dibutuhkan. Para orang tua bagi anak-anak yang berprestasi tinggi memberikan pola asuh yang baik disertai kehangatan, selanjutnya para guru memberikan pelatihan yang baik.
Bakat bersifat potensial yang memerlukan pengembangan. Untuk pengembangan bakat ada sejumlah hal yang harus dilakukan oleh para guru, antara lain adalah :
a. Perkaya anak dengan macam-macam pengalaman, dan membangun motivasi belajar. Dengan cara ini anak akan dapat menemukan dimana dia berbakat.
b. Dorong atau rangsanglah anak untuk meluaskan kemampuannya, setelah anak mengarang, anjurkan dia untuk mengambarkannya.
c. Bersimpati atau bersama-sama melakukan kegiatan dengan anak.
d. Berilah penghargaan atau pujian atas usaha yang dilakukannya sekecil apapun usaha tersebut.
e. Sediakanlah sarana yang memadai untuk pengembangan bakat anak.
Beberapa cara yang bisa dilakukan orang tua untuk membantu pengembangan bakat anak adalah :
a. Patoklah prestasi akademis yang tinggi namun realistis buat anak.
b. Tanamkanlah rasa optimis kepada mereka bahwa mereka bisa mencapainya.
c. Bicara dan bermain dengan anak, untuk meningkatkan kemampuan komunikasi.
d. Berceritalah mengenai berbagai peristiwa yang sedang terjadi, apa saja yang terjadi di lingkungan sekitar. Saat berbicara mengenai rutinitas harian Anda, jelaskan apa yang Anda lakukan dan mengapa. Doronglah anak untuk bertanya untuk Anda jawab, atau bisa juga bantu dia untuk menjawabnya sendiri.
e. Perhatikan apa yang mereka suka lakukan, seperti hobi menggambar, melukis, atau menggunakan angka-angka. Bantu mereka mengembangkan kesukaan itu, dan cari tahu bagaimana mereka bisa mengikuti lomba di lingkungan sekitar atau di tingkat kota.
f. Bawa anak ke tempat-tempat dimana mereka bisa mempelajari hal baru, seperti pentas musik, museum atau galeri seni.
g. Cari anggota keluarga yang bisa menjadi mentor membantu anak mengembangkan bakat mereka.
Namun, ada hal-hal yang Orang tua hendaknya waspada akan diri mereka apakah mereka memberikan respon sungguh terhadap kebutuhan anak ataukah hanya memberikan respon kepada bakat yang dimiliki anak. Tidak sedikit orang tua yang salah dalam hal ini, yaitu adakalanya orang tua menyadari anak mereka berbakat lantas secara menggebu-gebu memaksa anakya mengikuti latihan-latihan dengan program yang sangat ketat. Dorongan seperti ini lambat laun akan membuat anak menyadari bahwa orang tua mereka lebih berminat pada bakat yang mereka miliki daripada memperhatikan kesejahteraan dan kebahagiaan diri mereka selaku anak-anaknya.
TUJUAN BELAJAR
TUJUAN BELAJAR
1. Tujuan belajar
a. Pengertian tujuan belajar
Belajar merupakan peristiwa yang sepantasnya dialami oleh anak dalam situasi-situasi tertentu baik disekolah maupun diluar sekolah.
Pengertian belajar menurut para ahli:
Wingkel,(1987), belajar adalah sebagai suatu aktifitas mental/ psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dalam lingkungan, yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, ketrampilan dan nilai sikap. Perubahan-perubahan itu bersifat secara relative menetap (konsisten) dan berbekas.
Skinner, belajar adalah Suatu perilaku yang ditimbulkan dari respon belajar.
Walra, rochmat,(1999:24) belajar adalah Suatu aktifitas atau pengalaman yang menghasilkan perubahan pengetahuan, perilaku dan pribadi yang bersifat permanen.
Edward L. Walker (1973) menyatakan bahwa belajar adalah suatu perubahan dalam pelaksanaan tugas yang terjadi sebagai hasil pengalaman dan tidak ada sangkut pautnya dengan kematangan rohaniah. Kelelahan, motivasi, perubahan dalam situasi stimulasi atau factor-faktor samara lainnya yang tidak berhubungan dengan kegiatan belajar.
Ngalim purwanto (1991), mengatakan belajar adalah suatu perubahan dalam tingkah laku dimana perubahan itu dapat mengarah kepada tingkah laku yang lebih buruk. Perubahan-perubahan itu terjadi melalui latihan dan pengalaman yang bersifat relative menetap.
A.G. Lunadi berpendapat bahwa belajar adalah suatu proses emosional dan intelektual sekaligus. Manusia mempunyai perasaan dan pikiran. Hasil belajar maksimal dicapai orang dapat memperluas perasaan maupun pikiran.
Jadi belajar dapat diartikan sebagai proses mental yang terjadi dalam diri seseorang dan melibatkan kegitan berpikir, yang terjadi melalui interaksi dengan lingkungan ( pengalaman belajar), sehingga dapat terjadi perilaku yang positif.
Jadi, seseorang yang dapat dikatakan telah belajar adalah apabila padanya telah terjadi perubahan tertentu, misalnya dari yang tidak dapat mengetik menjadi dapat mengetik, dari yang tidak dapat mengoperasikan computer menjadi mahir mengoperasikan computer dan lain sebagainya.
Tetapi tidak semua perubahan yang terjadi pada diri seseorang karena belajar. Misalnya ada perubahan pada anak yang terjadi pada seorang anak seperti : “ dari yang tidak dapat berdiri menjadi dapat berdiri, dari yang tidak dapat berjalan menjadi dapat berdiri ”. Perubahan seperti ini adalah perubahan yang terjadi karena kematangan. Disamping itu, perubahan yang tidak dapat digolongkan sebagai perubahan karena belajar adalah perubahan yang terdapat pada diri seseorang yang sangat singkat, dan kemudian segera menghilang.
Misalnya, seseorang yang secara kebetulan dapat memperbaiki televisi, tetapi ketika harus mengerjakan hal tersebut sekali, dia tidak dapat.
Orang tersebut sebenarnya belum belajar hal-hal yang berhubungan dengan kecakapan dalam bidang tersebut. sementara bahan belajarnya adalah berupa keadaan alam, hewan, tumbuhan dan bahan yang telah terhimpun dalam buku-buku pelajaran.
Belajar merupakan proses internal yang kompleks. Yang terlibat dalam proses internal tersebut adalah seluruh mental, yang meliputi ranah-ranah kognitif, afektif dan psikomotorik.
Pola hubungan tujuan pembelajaran, proses belajar, dan hal ikhwal yang terjadi pada siswadalam rangka kemandirian. Secara umum hal-hal tersebut terjadi sebagai berikut:
1. Guru yang membuat desain instruktusional memandang siswa sebagai partner yang memiliki azas mansipasi diri memaju kemandirian guru menyusun acara pembelajaran.
2. Siswa memiliki latar pengalaman dan kemampuan awal dalam proses pembelajaran.
3. Tujuan pembelajaran dalam desain instruksional dirumuskan oleh guru berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu.
4. Kegiatan belajar-mengajar merupakan tindak pembelajaran guru dikelas.
5. Proses belajar merupakan hal yang dialami siswa, suatu respon terhadap segala acara pembelajaran yang diprogramkan oleh guru.
6. Perilaku siswa merupakan hasil proses belajar yang dapat berupa perilaku yang dikehendaki maupun yang tidak dikehendaki.
7. Hasil belajar merupakan suatu puncak proses belajar.
8. Siswa mampu berlaku secara mandiri, setelah pembelajaran.
b. Perlunya tujuan belajar
Tujuan merupakan satu hal yang harus diketahui dan disadari oleh guru sebelum mulai mengajar pada proses pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru untuk suatu bidang studi maka si guru hendaknya merumuskan tujuan insruksionalnya, tujuan tersebut masih bersifat umum. Yang kemudian dijabarkan dalan tujuan instruksional khusus. Jadi tujuan umum perlu diurai dengan sistematika tujuan, sehingga mudah merealisasi tujuan umum secara bertingkat atau bertahap. Taraf kekhususan harus memungkinkan seorang guru mengukur taraf pencapaian tujuan serta menilai setiap fase perubahan tingkah laku yang diharapkan terjadi.
c. Jenis-jenis tujuan belajar
Kegiatan belajar adalah suatu proses yang bertujuan dimana antara siswa dan guru sama-sama mengupayakan agar kegiatan pembelajaran memperoleh hasil belajar yang maksimal. Dengan demikian, tujuan pembelajaran itu terdiri atas tujuan instruksional (tujuan mata pelajaran), tujuan pembelajaran umum (tujuan umum), dan tujuan pembelajaran khusus (sasaran belajar).
Untuk merumuskan tujuan belajar, guru hendaknya memperhatikan beberapa hal yang harus dijadikan pedoman untuk perumusan operasional yang baik, yaitu
a) Berpusat pada perubahan tingkah laku siswa
b) Mengkhususkan dalam bentuk-bentuk yang terbatas
c) Realitas bagi kebutuhan perkembangan siswa
Yang lazim dilakukan oleh guru-guru yang belum menyadari pentingnya perumusan tujuan dalam pembelajaran adalah
1. Merumuskan tujuan terlalu umum
2. Merumuskan tujuan dari sudut guru
3. Merumuskan tujuan dari sudut bahan pelajaran
4. Tidak merumuskan tujuan sama sekali.
2. Unsur-unsur dinamis dalam belajar
a. Dinamika siswa dalam belajar
Ada 6 jenis perilaku dari ranah kognitif yaitu
1. Pengetahuan
Mencakup kemampuan ingatan tentang hal yang telah dipelajari dan tersimpan dalam ingatan.
2. Pemahaman
Mencakup kemampuan menangkap arti dan makna hal yang dipelajari.
3. Penerapan
Mencakup kemampuan menerapkan metode dari kaidah untuk menghadapi masalah yang nyata dan baru
4. Analisis
Mencakup kemampuan merinci suatu kesatuan dalam bagian-bagian sehingga stuktur keseluruhan dapat dipahami dengan baik.
5. Sintesis
Mencakup kemampuan membentuk suatu pola baru.
6. Evaluasi
Mencakup kemampuan membentuk pendapat tentang berdasarkan kriteria tertentu.
Ke-6 jenis perilaku diatas bersikap hierarkhis.
Ranah afektif (karthwohl, bloom dkk) terdiri dari lima jenis perilaku sbagai berikut :
1. Penerimaan
Yang mencakup kepekaan tentang hal-hal tertentu dan kesediaan.
2. Partisipasi
Yang mencakup kerelaan, kesediaan memperhatikan dan berpartisipasi dalam suatu kegiatan. Pemikiran dan penentuan sikap yang mencakup menerima sesuatu nilai menghargai, mengakui dan menentukan sikap.
3. Organisasi
Yang mencakup kemampuan membentuk suatu system nilai sebagai pedoman dan pegangan hidup.
4. Pembentukan pola hidup
Yang mencakup kemampuan menghayati nilai dan membentuknya menjadi pola nilai kehidupan pribadi.
Kelima jenis perilaku diatas juga bersifat hierarkhis.
Ranah psikomotorik (simpson) terdiri dari tujuh jenis perilaku :
1. Persepsi
Yang mencakup kemampuan memilah-milahkan hal-hal secara khas dan menyadari adanya perbedaan yang khas tersebut.
2. Kesiapan
Yang mencakup kemampuan penempatan dari dalam keadaan dimana akan terjadi suatu gerakan atau rangkaian gerakan.
3. Gerakan terbimbing
Mencakup kemampuan melakukan gerakan sesuai contoh, atau gerakan peniruan.
4. Gerakan yang terbiasa
Mencakup kemampuan melakukan gerakan-gerakan tanpa contoh.
5. Gerakan kompleks
Yang mencakup kemampuan melakukan gerakan atau keterampilan yang terdiri dari banyak tahap,secara lancer, efisien dan tepat.
6. Penyesuaian pola gerakan
Yang mencakup kemampuan mengadakan perubahan dan penyesuaian pola gerak-gerik dengan persyaratan khusus yang berlaku.
7. Kreatifitas
Mencakup kemampuan melahirkan pola-pola geak-gerik yang baru atas prakarsa sendiri.
b. Dinamika guru dalam kegiatan pembelajaran
Peranan guru dalam proses pembelajaran sangat hierarkhis dalam dinamisasi siswa dalam belajar. Kondisi eksternal yang berpengaruh pada belajar yng penting adalah bahan belajar, saran belajar, media dan sumber belajar serta subjek belajar itu sendiri.
1. Bahan belajar
Merupakan sajian yang harus diberikan kpada siswa berupa pengetahuan, perilaku, nilai, sikap dan metode perolehan. Pertimbangan-pertimbang yang perlu diperhatikan guru untuk memilh bahan ajar adalah :
a. Apakah ihi bahan belajar sesuai dengan sasaran belajar.
b. Bagaimanakah tingkat kesetaraan bahan belajar bagi siswa.
c. Apakah isi bahan belajar tersebut menuntut digunakannya strategi belajar mengajar tertentu.
d. Apakah evaluasi belajar sesuai dengan bahan belajar tersebut.
2. Susunan belajar
Kondisi gedung sekolah, tata ruang kelas, dan alat-alat belajar berpengaruh trhadap kegiatan belajar.
Beberapa pertimbangan yang penting dilakukan guru adalah :
a. Apakah gedung sekolah membuat kenyamanan belajar?
b. Apakah pergaulan antar orang-orang yang terlibat proses pembelajaran menyenangkan.
c. Apakah siswa memiliki ruang belajar dirumah?
d. Apakah siswa mwmiliki kelompok-kelompok yang dapat merusak tertib pergaulan, maka perlu melakukan percegahan
3. Media dan susunan belajar
Guru berperan penting dalam menempatkan media, sumber belajar. Beberapa pertimbangan yang harus dilakukan guru :
a. Apakah media dan sumber blajar tersebut bermanfaat untuk mencapai sasaran belajar
b. Apakah isi pengetahuan pada media massa dapat digunakan sebagai sumber belajar pada pokok bahasan tertentu
c. Apakah isi pengetahuan pada alam dan lingkungan ada manfaat untuk pokok bahasan tertentu.
4. Guru sebagai sumber belajar
Guru adalah subjek pembelajaran siswa. Untuk itu peranan penting guru dalam pembelajaran adalah
a. Membuat desain pembelajaran secara tertulis
b. Meningkatkan diri menjadi seorang guru yang berkepribadian utuh
c. Bertindak sebagai guru yang mendidik
d. Meningkatkan profesonalisme keguruan
e. Melakukan pembelajaran sesuai dengan berbagau model pembelajarn yang sesuai dengan kondisi siswa, bahan belajar, dan kondisi sekolah
f. Dalam berhadapan dengan siswa , guru berperan sbagai fasilitator belajar, pembimbing belajar dan memberi perbaikan belajar
Dengan adanya peran-peran tersebut, maka sebagai pengajar guru adalah pembelajar sepanjang hayat (wingkel, 1991 : Monks : Knoers, Siti Rahayu 1989, Biggs dan Telfer 1987)
1. Tujuan belajar
a. Pengertian tujuan belajar
Belajar merupakan peristiwa yang sepantasnya dialami oleh anak dalam situasi-situasi tertentu baik disekolah maupun diluar sekolah.
Pengertian belajar menurut para ahli:
Wingkel,(1987), belajar adalah sebagai suatu aktifitas mental/ psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dalam lingkungan, yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, ketrampilan dan nilai sikap. Perubahan-perubahan itu bersifat secara relative menetap (konsisten) dan berbekas.
Skinner, belajar adalah Suatu perilaku yang ditimbulkan dari respon belajar.
Walra, rochmat,(1999:24) belajar adalah Suatu aktifitas atau pengalaman yang menghasilkan perubahan pengetahuan, perilaku dan pribadi yang bersifat permanen.
Edward L. Walker (1973) menyatakan bahwa belajar adalah suatu perubahan dalam pelaksanaan tugas yang terjadi sebagai hasil pengalaman dan tidak ada sangkut pautnya dengan kematangan rohaniah. Kelelahan, motivasi, perubahan dalam situasi stimulasi atau factor-faktor samara lainnya yang tidak berhubungan dengan kegiatan belajar.
Ngalim purwanto (1991), mengatakan belajar adalah suatu perubahan dalam tingkah laku dimana perubahan itu dapat mengarah kepada tingkah laku yang lebih buruk. Perubahan-perubahan itu terjadi melalui latihan dan pengalaman yang bersifat relative menetap.
A.G. Lunadi berpendapat bahwa belajar adalah suatu proses emosional dan intelektual sekaligus. Manusia mempunyai perasaan dan pikiran. Hasil belajar maksimal dicapai orang dapat memperluas perasaan maupun pikiran.
Jadi belajar dapat diartikan sebagai proses mental yang terjadi dalam diri seseorang dan melibatkan kegitan berpikir, yang terjadi melalui interaksi dengan lingkungan ( pengalaman belajar), sehingga dapat terjadi perilaku yang positif.
Jadi, seseorang yang dapat dikatakan telah belajar adalah apabila padanya telah terjadi perubahan tertentu, misalnya dari yang tidak dapat mengetik menjadi dapat mengetik, dari yang tidak dapat mengoperasikan computer menjadi mahir mengoperasikan computer dan lain sebagainya.
Tetapi tidak semua perubahan yang terjadi pada diri seseorang karena belajar. Misalnya ada perubahan pada anak yang terjadi pada seorang anak seperti : “ dari yang tidak dapat berdiri menjadi dapat berdiri, dari yang tidak dapat berjalan menjadi dapat berdiri ”. Perubahan seperti ini adalah perubahan yang terjadi karena kematangan. Disamping itu, perubahan yang tidak dapat digolongkan sebagai perubahan karena belajar adalah perubahan yang terdapat pada diri seseorang yang sangat singkat, dan kemudian segera menghilang.
Misalnya, seseorang yang secara kebetulan dapat memperbaiki televisi, tetapi ketika harus mengerjakan hal tersebut sekali, dia tidak dapat.
Orang tersebut sebenarnya belum belajar hal-hal yang berhubungan dengan kecakapan dalam bidang tersebut. sementara bahan belajarnya adalah berupa keadaan alam, hewan, tumbuhan dan bahan yang telah terhimpun dalam buku-buku pelajaran.
Belajar merupakan proses internal yang kompleks. Yang terlibat dalam proses internal tersebut adalah seluruh mental, yang meliputi ranah-ranah kognitif, afektif dan psikomotorik.
Pola hubungan tujuan pembelajaran, proses belajar, dan hal ikhwal yang terjadi pada siswadalam rangka kemandirian. Secara umum hal-hal tersebut terjadi sebagai berikut:
1. Guru yang membuat desain instruktusional memandang siswa sebagai partner yang memiliki azas mansipasi diri memaju kemandirian guru menyusun acara pembelajaran.
2. Siswa memiliki latar pengalaman dan kemampuan awal dalam proses pembelajaran.
3. Tujuan pembelajaran dalam desain instruksional dirumuskan oleh guru berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu.
4. Kegiatan belajar-mengajar merupakan tindak pembelajaran guru dikelas.
5. Proses belajar merupakan hal yang dialami siswa, suatu respon terhadap segala acara pembelajaran yang diprogramkan oleh guru.
6. Perilaku siswa merupakan hasil proses belajar yang dapat berupa perilaku yang dikehendaki maupun yang tidak dikehendaki.
7. Hasil belajar merupakan suatu puncak proses belajar.
8. Siswa mampu berlaku secara mandiri, setelah pembelajaran.
b. Perlunya tujuan belajar
Tujuan merupakan satu hal yang harus diketahui dan disadari oleh guru sebelum mulai mengajar pada proses pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru untuk suatu bidang studi maka si guru hendaknya merumuskan tujuan insruksionalnya, tujuan tersebut masih bersifat umum. Yang kemudian dijabarkan dalan tujuan instruksional khusus. Jadi tujuan umum perlu diurai dengan sistematika tujuan, sehingga mudah merealisasi tujuan umum secara bertingkat atau bertahap. Taraf kekhususan harus memungkinkan seorang guru mengukur taraf pencapaian tujuan serta menilai setiap fase perubahan tingkah laku yang diharapkan terjadi.
c. Jenis-jenis tujuan belajar
Kegiatan belajar adalah suatu proses yang bertujuan dimana antara siswa dan guru sama-sama mengupayakan agar kegiatan pembelajaran memperoleh hasil belajar yang maksimal. Dengan demikian, tujuan pembelajaran itu terdiri atas tujuan instruksional (tujuan mata pelajaran), tujuan pembelajaran umum (tujuan umum), dan tujuan pembelajaran khusus (sasaran belajar).
Untuk merumuskan tujuan belajar, guru hendaknya memperhatikan beberapa hal yang harus dijadikan pedoman untuk perumusan operasional yang baik, yaitu
a) Berpusat pada perubahan tingkah laku siswa
b) Mengkhususkan dalam bentuk-bentuk yang terbatas
c) Realitas bagi kebutuhan perkembangan siswa
Yang lazim dilakukan oleh guru-guru yang belum menyadari pentingnya perumusan tujuan dalam pembelajaran adalah
1. Merumuskan tujuan terlalu umum
2. Merumuskan tujuan dari sudut guru
3. Merumuskan tujuan dari sudut bahan pelajaran
4. Tidak merumuskan tujuan sama sekali.
2. Unsur-unsur dinamis dalam belajar
a. Dinamika siswa dalam belajar
Ada 6 jenis perilaku dari ranah kognitif yaitu
1. Pengetahuan
Mencakup kemampuan ingatan tentang hal yang telah dipelajari dan tersimpan dalam ingatan.
2. Pemahaman
Mencakup kemampuan menangkap arti dan makna hal yang dipelajari.
3. Penerapan
Mencakup kemampuan menerapkan metode dari kaidah untuk menghadapi masalah yang nyata dan baru
4. Analisis
Mencakup kemampuan merinci suatu kesatuan dalam bagian-bagian sehingga stuktur keseluruhan dapat dipahami dengan baik.
5. Sintesis
Mencakup kemampuan membentuk suatu pola baru.
6. Evaluasi
Mencakup kemampuan membentuk pendapat tentang berdasarkan kriteria tertentu.
Ke-6 jenis perilaku diatas bersikap hierarkhis.
Ranah afektif (karthwohl, bloom dkk) terdiri dari lima jenis perilaku sbagai berikut :
1. Penerimaan
Yang mencakup kepekaan tentang hal-hal tertentu dan kesediaan.
2. Partisipasi
Yang mencakup kerelaan, kesediaan memperhatikan dan berpartisipasi dalam suatu kegiatan. Pemikiran dan penentuan sikap yang mencakup menerima sesuatu nilai menghargai, mengakui dan menentukan sikap.
3. Organisasi
Yang mencakup kemampuan membentuk suatu system nilai sebagai pedoman dan pegangan hidup.
4. Pembentukan pola hidup
Yang mencakup kemampuan menghayati nilai dan membentuknya menjadi pola nilai kehidupan pribadi.
Kelima jenis perilaku diatas juga bersifat hierarkhis.
Ranah psikomotorik (simpson) terdiri dari tujuh jenis perilaku :
1. Persepsi
Yang mencakup kemampuan memilah-milahkan hal-hal secara khas dan menyadari adanya perbedaan yang khas tersebut.
2. Kesiapan
Yang mencakup kemampuan penempatan dari dalam keadaan dimana akan terjadi suatu gerakan atau rangkaian gerakan.
3. Gerakan terbimbing
Mencakup kemampuan melakukan gerakan sesuai contoh, atau gerakan peniruan.
4. Gerakan yang terbiasa
Mencakup kemampuan melakukan gerakan-gerakan tanpa contoh.
5. Gerakan kompleks
Yang mencakup kemampuan melakukan gerakan atau keterampilan yang terdiri dari banyak tahap,secara lancer, efisien dan tepat.
6. Penyesuaian pola gerakan
Yang mencakup kemampuan mengadakan perubahan dan penyesuaian pola gerak-gerik dengan persyaratan khusus yang berlaku.
7. Kreatifitas
Mencakup kemampuan melahirkan pola-pola geak-gerik yang baru atas prakarsa sendiri.
b. Dinamika guru dalam kegiatan pembelajaran
Peranan guru dalam proses pembelajaran sangat hierarkhis dalam dinamisasi siswa dalam belajar. Kondisi eksternal yang berpengaruh pada belajar yng penting adalah bahan belajar, saran belajar, media dan sumber belajar serta subjek belajar itu sendiri.
1. Bahan belajar
Merupakan sajian yang harus diberikan kpada siswa berupa pengetahuan, perilaku, nilai, sikap dan metode perolehan. Pertimbangan-pertimbang yang perlu diperhatikan guru untuk memilh bahan ajar adalah :
a. Apakah ihi bahan belajar sesuai dengan sasaran belajar.
b. Bagaimanakah tingkat kesetaraan bahan belajar bagi siswa.
c. Apakah isi bahan belajar tersebut menuntut digunakannya strategi belajar mengajar tertentu.
d. Apakah evaluasi belajar sesuai dengan bahan belajar tersebut.
2. Susunan belajar
Kondisi gedung sekolah, tata ruang kelas, dan alat-alat belajar berpengaruh trhadap kegiatan belajar.
Beberapa pertimbangan yang penting dilakukan guru adalah :
a. Apakah gedung sekolah membuat kenyamanan belajar?
b. Apakah pergaulan antar orang-orang yang terlibat proses pembelajaran menyenangkan.
c. Apakah siswa memiliki ruang belajar dirumah?
d. Apakah siswa mwmiliki kelompok-kelompok yang dapat merusak tertib pergaulan, maka perlu melakukan percegahan
3. Media dan susunan belajar
Guru berperan penting dalam menempatkan media, sumber belajar. Beberapa pertimbangan yang harus dilakukan guru :
a. Apakah media dan sumber blajar tersebut bermanfaat untuk mencapai sasaran belajar
b. Apakah isi pengetahuan pada media massa dapat digunakan sebagai sumber belajar pada pokok bahasan tertentu
c. Apakah isi pengetahuan pada alam dan lingkungan ada manfaat untuk pokok bahasan tertentu.
4. Guru sebagai sumber belajar
Guru adalah subjek pembelajaran siswa. Untuk itu peranan penting guru dalam pembelajaran adalah
a. Membuat desain pembelajaran secara tertulis
b. Meningkatkan diri menjadi seorang guru yang berkepribadian utuh
c. Bertindak sebagai guru yang mendidik
d. Meningkatkan profesonalisme keguruan
e. Melakukan pembelajaran sesuai dengan berbagau model pembelajarn yang sesuai dengan kondisi siswa, bahan belajar, dan kondisi sekolah
f. Dalam berhadapan dengan siswa , guru berperan sbagai fasilitator belajar, pembimbing belajar dan memberi perbaikan belajar
Dengan adanya peran-peran tersebut, maka sebagai pengajar guru adalah pembelajar sepanjang hayat (wingkel, 1991 : Monks : Knoers, Siti Rahayu 1989, Biggs dan Telfer 1987)
Perkembangan Emosi
PERKEMBANGAN EMOSI
1. Pengertian emosi
Kata emosi berasal dari bahasa latin, yaitu emovere, yang berarti bergerak menjauh. Arti kata ini menyiratkan bahwa kecenderungan bertindak merupakan hal mutlak dalam emosi. Menurut Daniel Goleman (2002 : 411) emosi merujuk pada suatu perasaan dan pikiran yang khas, suatu keadaan biologis dan psikologis dan serangkaian kecenderungan untuk bertindak. Emosi pada dasarnya adalah dorongan untuk bertindak. Biasanya emosi merupakan reaksi terhadap rangsangan dari luar dan dalam diri individu. Sebagai contoh emosi gembira mendorong perubahan suasana hati seseorang, sehingga secara fisiologi terlihat tertawa, emosi sedih mendorong seseorang berperilaku menangis.
Emosi berkaitan dengan perubahan fisiologis dan berbagai pikiran. Jadi, emosi merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan manusia, karena emosi dapat merupakan motivator perilaku dalam arti meningkatkan, tapi juga dapat mengganggu perilaku intensional manusia. (Prawitasari,1995)
Beberapa tokoh mengemukakan tentang macam-macam emosi, antara lain Descrates. Menurut Descrates, emosi terbagi atas : Desire (hasrat), hate (benci), Sorrow (sedih/duka), Wonder (heran), Love (cinta) dan Joy (kegembiraan). Sedangkan JB Watson mengemukakan tiga macam emosi, yaitu : fear (ketakutan), Rage(kemarahan), Love (cinta). Daniel Goleman (2002 : 411) mengemukakan beberapa macam emosi yang tidak berbeda jauh dengan kedua tokoh di atas, yaitu :
a. Amarah : beringas, mengamuk, benci, jengkel, kesal hati
b. Kesedihan : pedih, sedih, muram, suram, melankolis, mengasihi diri, putus asa
c. Rasa takut : cemas, gugup, khawatir, was-was, perasaan takut sekali, waspada, tidak tenang, ngeri
d. Kenikmatan : bahagia, gembira, riang, puas, riang, senang, terhibur, bangga
e. Cinta : penerimaan, persahabatan, kepercayaan, kebaikan hati, rasa dekat, bakti, hormat, kemesraan, kasih
f. Terkejut : terkesiap, terkejut
g. Jengkel : hina, jijik, muak, mual, tidak suka
h. malu : malu hati, kesal
Seperti yang telah diuraikan diatas, bahwa semua emosi menurut Goleman pada dasarnya adalah dorongan untuk bertindak. Jadi berbagai macam emosi itu mendorong individu untuk memberikan respon atau bertingkah laku terhadap stimulus yang ada. Dalam the Nicomachea Ethics pembahasan Aristoteles secara filsafat tentang kebajikan, karakter dan hidup yang benar, tantangannya adalah menguasai kehidupan emosional kita dengan kecerdasan. Nafsu, apabila dilatih dengan baik akan memiliki kebijaksanaan; nafsu membimbing pemikiran, nilai, dan kelangsungan hidup kita. Tetapi, nafsu dapat dengan mudah menjadi tak terkendalikan, dan hal itu seringkali terjadi. Menurut Aristoteles, masalahnya bukanlah mengenai emosionalitas, melainkan mengenai keselarasan antara emosi dan cara mengekspresikan (Goleman, 2002 : xvi).
Menurut Mayer (Goleman, 2002 : 65) orang cenderung menganut gaya-gaya khas dalam menangani dan mengatasi emosi mereka, yaitu : sadar diri, tenggelam dalam permasalahan, dan pasrah. Dengan melihat keadaan itu maka penting bagi setiap individu memiliki kecerdasan emosional agar menjadikan hidup lebih bermakna dan tidak menjadikan hidup yang di jalani menjadi sia-sia.
Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa emosi adalah suatu perasaan (afek) yang mendorong individu untuk merespon atau bertingkah laku terhadap stimulus, baik yang berasal dari dalam maupun dari luar dirinya.
2.Ciri-ciri emosi remaja
Masa remaja secara tradisional dianggap sebagai periode “badai dan tekanan”, dimana pada masa itu emosi meninggi sebagai akibat dari perubahan fisik dan kalenjar. Namun tidak semua remaja menjalani masa badai dan tekanan, namun benar juga bila sebagian besar remaja mengalami ketidakstabilan dari waktu ke waktu sebagai konsekuensi usaha penyesuaian diri terhadappolaperilakubarudanharapansosialbaru.
Pola emosi masa remaja sama dengan pola emosi masa kanak-kanak. Jenis yang secara normal dialami adalah : cinta atau kasih sayang, gembira, amarah, takut, sedih dan lainnya lagi. Perbedaannya terletak pada macam dan derajat rangsangan yang membangkitkan emosinya dan khususnya pola pengendalian yang dilakukan individu terhadap ungkapan emosi mereka.
Biehler (1972) membagi ciri-ciri emosional remaja menjadi dua rentang usia, yaitu usia 12-15 tahundanusia15-1tahun.
Ciri-ciri emosional usia 12-15 tahun
1. Cenderung banyak murung dan tidak dapat diterka
2. Bertingkah laku kasar untuk menutupi kekurangan dalam hal rasa percaya diri
3. Kemarahan biasa terjadi
4. Cenderung tidak toleran terhadap orang lain dan ingin selalu menang sendiri
5. Mulai mengamati orang tua dan guru-guru mereka secara objektif
Ciri-ciri emosional remaja usia 15-18 tahun
1. “Pemberontakan” remaja merupakan ekspresi dari perubahan yang universa dari masa kanak-kanak menuju dewasa
2. Banyak remaja mengalami konflik dengan orang tua mereka
3. Sering kali melamun, memikirkan masa depan mereka
3.Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Emosi Remaja
Perkembangan emosi remaja dipengaruhi pada factor kematangan dan factor belajar Perkembangan Intelektual menghasilkan kemampuan untuk memahami makna yang sebelumnya tidak dimengerti, memperhatikan suatu rangsangan dalam jangka yang lebih lama dan menimbulkan emosi terarah pada suatu objek, kemampuan mengingat juga mempengaruhi reaksi emosional. Selain itu Perkembangan kelejar Endokrin penting untuk mematangkan perilaku emosional. Sejumlah penelitian tentang emosi remaja menunjukan bahwa perkembangan emosi mereka bergantung pada faktor kematangan dan faktor belajar.
Kematangan dan belajar terjalin erat satu sama lain dalam mempengaruhi perkembangan emosi. Perkembangan intelektual menghasilkan kemampuan untuk memahami makna yang sebelumnya tidak dimengerti dimana itu menimbulkan emosi terarah pada satu objek. Kemampuan mengingat juga mempengaruhi reaksi emosional. Dan itu menyebabkan anak-anak menjadi reaktif terhadap rangsangan yang tadinya tidak mempengaruhi mereka pada usia yang lebih muda. Kegiatan belajar juga turut menunjang perkembangan emosi. Metode belajar yang menunjang perkembangan emosi, antara lain yaitu :
1. Belajar dengan coba-coba
Anak belajar secara coba-coba untuk mengekspresikan emosi dalam bentuk perilaku yang memberikan pemuasan terbesar kepadanya dan menolak perilaku yang memberikan pemuasan sedikit atau sama sekali tidak memberikan kepuasan.
2. Belajar dengan cara meniru
Dengan cara mengamati hal-hal yang membangkitkan emosi orang lain. Anak-anak bereaksi dengan emosi dan metode ekspresi yang sama dengan orang-orang yang diamatinya.
3. Belajar dengan mempersamakan diri
Anak menyamakan dirinya dengan orang yang dikagumi dan mempunyai ikatan emosional yang kuat dengannya. Yaitu menirukan reaksi emosional orang lain yang tergugah oleh rangsangan yang sama.
4. Belajar melalui pengkondisian
Dengan metode ini objek situasi yang pada mulanya gagal memancing reaksi emosional, kemudian dapat berhasil dengan cara asosiasi. penggunaan metode pengkondisian semakin terbatas pada perkembangan rasa suka dan tidak suka, setelah melewati masa kanak-kanak.
5. Pelatihan atau belajar di bawah bimbingan dan pengawasan
Dengan pelatihan, anak-anak dirangsang untuk bereaksi terhadap rangsangan yang biasa membangkitkan emosi yang menyenangkan dan dicegah agar tidak bereaksi secara emosional yang tidak menyenangkan.
Selain itu pertambahan unsur pertambahnya pengetahuan dan pemanfaatan media/keseluruhan antar belakang pengalaman juga berpengaruh terhadap perubahan-perubahan emosi.
4.Usaha Guru Untuk Mengembangkan Emosi Positif Remaja
Emosi remaja awal yang cenderung banyak melamun dan sulit diterka, maka yang dapat dilakukan guru adalah konsisten dalam pengelolaan kelas dan memperlakukan siswa seperti orang dewasa yang penuh tanggung jawab.
Upaya pengembangan emosi remaja, yaitu:
a. Membantu mereka dan mendorong mereka untuk bersaing dengan diri sendiri.
b. Meminta siswa mendiskusikan dan menulis tentang perasaan-perasaan mereka yang negative serta memahami alasan-alasan pemberontakannya agar dapat membantu siswa untuk mengendalikan diri.
c. Cara yang paling baik menghadapi pemberontakan remaja adalah mencoba mengerti mereka dan melakukan segala sesuatu yang dapat dilakukan untuk membantu remaja berhasil berprestasi dalam salah satu bidang.
d. Guru diminta untuk berfungsi dan bersikap seperti pendengar yang simpatik atas segala cerita-cerita mereka tentang masalahnya, perasaan-perasaannya, dan rahasia pribadinya.
e. Mengendalikan lingkungan untuk menjamin pembinaan poal emosi yang diinginkan dan menghilangkan reaksi-reaksi emosional yang diinginkan sebelum berkembang menjadi kebiasaan yang tertaman kuat.
James C. Coleman (Nana Syaodih Sukmadinata, 2005), mengemukakan beberapa cara untuk memelihara emosi yang konstruktif .
1. Bangkitkan rasa humor. Yang dimaksud rasa humor disini adalah rasa senang, rasa gembira, rasa optimisme. Seseorang yang memiliki rasa humor tidak akan mudah putus asa, ia akan bisa tertawa meskipun sedang menghadapi kesulitan
2. Peliharalah selalu emosi-emosi yang positif, jauhkanlah emosi negatif. Dengan selalu mengusahakan munculnya emosi positif, maka sedikit sekali kemungkinan individu akan mengalami emosi negatif. Kalaupun ia menghayati emosi negatif, tetapi diusahakan yang intensitasnya rendah, sehingga masih bernilai positif.
3. Senatiasa berorientasi kepada kenyataan. Kehidupan individu memiliki titik tolak dan sasaran yang akan dicapai. Agar tidak bersifat negatif, sebaiknya individu selalu bertolak dari kenyataan, apa yang dimiliki dan bisa dikerjakan, dan ditujukan kepada pencapaian sesuatu tujuan yang nyata juga.
4. Kurangi dan hilangkan emosi yang negatif. Apabila individu telah terlanjur menghadapi emosi yang negatif, segeralah berupaya untuk mengurangi dan menghilangkan emosi-emosi tersebut. Upaya tersebut dapat dilakukan melalui: pemahaman akan apa yang menimbulkan emosi tersebut, pengembangan pola-pola tindakan atau respons emosional, mengadakan pencurahan perasaan, dan pengikisan akan emosi-emosi yang kuat.
DAFTAR PUSTAKA
Nana Syaodih Sukmadinata. 2005. Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Bandung :
P.T. Remaja Rosdakarya.
Gottman, John. (2001). Kiat-kiat Membesarkan Anak yang Memiliki Kecerdasan
Emosional (terjemahan). Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama
Sumber lain dikutip dari skripsi; Amalia Sawitri Wahyuningsih.
Mudjiran, dkk. 2007. Perkembangan Peserta Didik. Padang : UNP PRESS
1. Pengertian emosi
Kata emosi berasal dari bahasa latin, yaitu emovere, yang berarti bergerak menjauh. Arti kata ini menyiratkan bahwa kecenderungan bertindak merupakan hal mutlak dalam emosi. Menurut Daniel Goleman (2002 : 411) emosi merujuk pada suatu perasaan dan pikiran yang khas, suatu keadaan biologis dan psikologis dan serangkaian kecenderungan untuk bertindak. Emosi pada dasarnya adalah dorongan untuk bertindak. Biasanya emosi merupakan reaksi terhadap rangsangan dari luar dan dalam diri individu. Sebagai contoh emosi gembira mendorong perubahan suasana hati seseorang, sehingga secara fisiologi terlihat tertawa, emosi sedih mendorong seseorang berperilaku menangis.
Emosi berkaitan dengan perubahan fisiologis dan berbagai pikiran. Jadi, emosi merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan manusia, karena emosi dapat merupakan motivator perilaku dalam arti meningkatkan, tapi juga dapat mengganggu perilaku intensional manusia. (Prawitasari,1995)
Beberapa tokoh mengemukakan tentang macam-macam emosi, antara lain Descrates. Menurut Descrates, emosi terbagi atas : Desire (hasrat), hate (benci), Sorrow (sedih/duka), Wonder (heran), Love (cinta) dan Joy (kegembiraan). Sedangkan JB Watson mengemukakan tiga macam emosi, yaitu : fear (ketakutan), Rage(kemarahan), Love (cinta). Daniel Goleman (2002 : 411) mengemukakan beberapa macam emosi yang tidak berbeda jauh dengan kedua tokoh di atas, yaitu :
a. Amarah : beringas, mengamuk, benci, jengkel, kesal hati
b. Kesedihan : pedih, sedih, muram, suram, melankolis, mengasihi diri, putus asa
c. Rasa takut : cemas, gugup, khawatir, was-was, perasaan takut sekali, waspada, tidak tenang, ngeri
d. Kenikmatan : bahagia, gembira, riang, puas, riang, senang, terhibur, bangga
e. Cinta : penerimaan, persahabatan, kepercayaan, kebaikan hati, rasa dekat, bakti, hormat, kemesraan, kasih
f. Terkejut : terkesiap, terkejut
g. Jengkel : hina, jijik, muak, mual, tidak suka
h. malu : malu hati, kesal
Seperti yang telah diuraikan diatas, bahwa semua emosi menurut Goleman pada dasarnya adalah dorongan untuk bertindak. Jadi berbagai macam emosi itu mendorong individu untuk memberikan respon atau bertingkah laku terhadap stimulus yang ada. Dalam the Nicomachea Ethics pembahasan Aristoteles secara filsafat tentang kebajikan, karakter dan hidup yang benar, tantangannya adalah menguasai kehidupan emosional kita dengan kecerdasan. Nafsu, apabila dilatih dengan baik akan memiliki kebijaksanaan; nafsu membimbing pemikiran, nilai, dan kelangsungan hidup kita. Tetapi, nafsu dapat dengan mudah menjadi tak terkendalikan, dan hal itu seringkali terjadi. Menurut Aristoteles, masalahnya bukanlah mengenai emosionalitas, melainkan mengenai keselarasan antara emosi dan cara mengekspresikan (Goleman, 2002 : xvi).
Menurut Mayer (Goleman, 2002 : 65) orang cenderung menganut gaya-gaya khas dalam menangani dan mengatasi emosi mereka, yaitu : sadar diri, tenggelam dalam permasalahan, dan pasrah. Dengan melihat keadaan itu maka penting bagi setiap individu memiliki kecerdasan emosional agar menjadikan hidup lebih bermakna dan tidak menjadikan hidup yang di jalani menjadi sia-sia.
Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa emosi adalah suatu perasaan (afek) yang mendorong individu untuk merespon atau bertingkah laku terhadap stimulus, baik yang berasal dari dalam maupun dari luar dirinya.
2.Ciri-ciri emosi remaja
Masa remaja secara tradisional dianggap sebagai periode “badai dan tekanan”, dimana pada masa itu emosi meninggi sebagai akibat dari perubahan fisik dan kalenjar. Namun tidak semua remaja menjalani masa badai dan tekanan, namun benar juga bila sebagian besar remaja mengalami ketidakstabilan dari waktu ke waktu sebagai konsekuensi usaha penyesuaian diri terhadappolaperilakubarudanharapansosialbaru.
Pola emosi masa remaja sama dengan pola emosi masa kanak-kanak. Jenis yang secara normal dialami adalah : cinta atau kasih sayang, gembira, amarah, takut, sedih dan lainnya lagi. Perbedaannya terletak pada macam dan derajat rangsangan yang membangkitkan emosinya dan khususnya pola pengendalian yang dilakukan individu terhadap ungkapan emosi mereka.
Biehler (1972) membagi ciri-ciri emosional remaja menjadi dua rentang usia, yaitu usia 12-15 tahundanusia15-1tahun.
Ciri-ciri emosional usia 12-15 tahun
1. Cenderung banyak murung dan tidak dapat diterka
2. Bertingkah laku kasar untuk menutupi kekurangan dalam hal rasa percaya diri
3. Kemarahan biasa terjadi
4. Cenderung tidak toleran terhadap orang lain dan ingin selalu menang sendiri
5. Mulai mengamati orang tua dan guru-guru mereka secara objektif
Ciri-ciri emosional remaja usia 15-18 tahun
1. “Pemberontakan” remaja merupakan ekspresi dari perubahan yang universa dari masa kanak-kanak menuju dewasa
2. Banyak remaja mengalami konflik dengan orang tua mereka
3. Sering kali melamun, memikirkan masa depan mereka
3.Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Emosi Remaja
Perkembangan emosi remaja dipengaruhi pada factor kematangan dan factor belajar Perkembangan Intelektual menghasilkan kemampuan untuk memahami makna yang sebelumnya tidak dimengerti, memperhatikan suatu rangsangan dalam jangka yang lebih lama dan menimbulkan emosi terarah pada suatu objek, kemampuan mengingat juga mempengaruhi reaksi emosional. Selain itu Perkembangan kelejar Endokrin penting untuk mematangkan perilaku emosional. Sejumlah penelitian tentang emosi remaja menunjukan bahwa perkembangan emosi mereka bergantung pada faktor kematangan dan faktor belajar.
Kematangan dan belajar terjalin erat satu sama lain dalam mempengaruhi perkembangan emosi. Perkembangan intelektual menghasilkan kemampuan untuk memahami makna yang sebelumnya tidak dimengerti dimana itu menimbulkan emosi terarah pada satu objek. Kemampuan mengingat juga mempengaruhi reaksi emosional. Dan itu menyebabkan anak-anak menjadi reaktif terhadap rangsangan yang tadinya tidak mempengaruhi mereka pada usia yang lebih muda. Kegiatan belajar juga turut menunjang perkembangan emosi. Metode belajar yang menunjang perkembangan emosi, antara lain yaitu :
1. Belajar dengan coba-coba
Anak belajar secara coba-coba untuk mengekspresikan emosi dalam bentuk perilaku yang memberikan pemuasan terbesar kepadanya dan menolak perilaku yang memberikan pemuasan sedikit atau sama sekali tidak memberikan kepuasan.
2. Belajar dengan cara meniru
Dengan cara mengamati hal-hal yang membangkitkan emosi orang lain. Anak-anak bereaksi dengan emosi dan metode ekspresi yang sama dengan orang-orang yang diamatinya.
3. Belajar dengan mempersamakan diri
Anak menyamakan dirinya dengan orang yang dikagumi dan mempunyai ikatan emosional yang kuat dengannya. Yaitu menirukan reaksi emosional orang lain yang tergugah oleh rangsangan yang sama.
4. Belajar melalui pengkondisian
Dengan metode ini objek situasi yang pada mulanya gagal memancing reaksi emosional, kemudian dapat berhasil dengan cara asosiasi. penggunaan metode pengkondisian semakin terbatas pada perkembangan rasa suka dan tidak suka, setelah melewati masa kanak-kanak.
5. Pelatihan atau belajar di bawah bimbingan dan pengawasan
Dengan pelatihan, anak-anak dirangsang untuk bereaksi terhadap rangsangan yang biasa membangkitkan emosi yang menyenangkan dan dicegah agar tidak bereaksi secara emosional yang tidak menyenangkan.
Selain itu pertambahan unsur pertambahnya pengetahuan dan pemanfaatan media/keseluruhan antar belakang pengalaman juga berpengaruh terhadap perubahan-perubahan emosi.
4.Usaha Guru Untuk Mengembangkan Emosi Positif Remaja
Emosi remaja awal yang cenderung banyak melamun dan sulit diterka, maka yang dapat dilakukan guru adalah konsisten dalam pengelolaan kelas dan memperlakukan siswa seperti orang dewasa yang penuh tanggung jawab.
Upaya pengembangan emosi remaja, yaitu:
a. Membantu mereka dan mendorong mereka untuk bersaing dengan diri sendiri.
b. Meminta siswa mendiskusikan dan menulis tentang perasaan-perasaan mereka yang negative serta memahami alasan-alasan pemberontakannya agar dapat membantu siswa untuk mengendalikan diri.
c. Cara yang paling baik menghadapi pemberontakan remaja adalah mencoba mengerti mereka dan melakukan segala sesuatu yang dapat dilakukan untuk membantu remaja berhasil berprestasi dalam salah satu bidang.
d. Guru diminta untuk berfungsi dan bersikap seperti pendengar yang simpatik atas segala cerita-cerita mereka tentang masalahnya, perasaan-perasaannya, dan rahasia pribadinya.
e. Mengendalikan lingkungan untuk menjamin pembinaan poal emosi yang diinginkan dan menghilangkan reaksi-reaksi emosional yang diinginkan sebelum berkembang menjadi kebiasaan yang tertaman kuat.
James C. Coleman (Nana Syaodih Sukmadinata, 2005), mengemukakan beberapa cara untuk memelihara emosi yang konstruktif .
1. Bangkitkan rasa humor. Yang dimaksud rasa humor disini adalah rasa senang, rasa gembira, rasa optimisme. Seseorang yang memiliki rasa humor tidak akan mudah putus asa, ia akan bisa tertawa meskipun sedang menghadapi kesulitan
2. Peliharalah selalu emosi-emosi yang positif, jauhkanlah emosi negatif. Dengan selalu mengusahakan munculnya emosi positif, maka sedikit sekali kemungkinan individu akan mengalami emosi negatif. Kalaupun ia menghayati emosi negatif, tetapi diusahakan yang intensitasnya rendah, sehingga masih bernilai positif.
3. Senatiasa berorientasi kepada kenyataan. Kehidupan individu memiliki titik tolak dan sasaran yang akan dicapai. Agar tidak bersifat negatif, sebaiknya individu selalu bertolak dari kenyataan, apa yang dimiliki dan bisa dikerjakan, dan ditujukan kepada pencapaian sesuatu tujuan yang nyata juga.
4. Kurangi dan hilangkan emosi yang negatif. Apabila individu telah terlanjur menghadapi emosi yang negatif, segeralah berupaya untuk mengurangi dan menghilangkan emosi-emosi tersebut. Upaya tersebut dapat dilakukan melalui: pemahaman akan apa yang menimbulkan emosi tersebut, pengembangan pola-pola tindakan atau respons emosional, mengadakan pencurahan perasaan, dan pengikisan akan emosi-emosi yang kuat.
DAFTAR PUSTAKA
Nana Syaodih Sukmadinata. 2005. Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Bandung :
P.T. Remaja Rosdakarya.
Gottman, John. (2001). Kiat-kiat Membesarkan Anak yang Memiliki Kecerdasan
Emosional (terjemahan). Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama
Sumber lain dikutip dari skripsi; Amalia Sawitri Wahyuningsih.
Mudjiran, dkk. 2007. Perkembangan Peserta Didik. Padang : UNP PRESS
Administrasi Keuangan
ADMINISTRASI KEUANGAN
1. Pengertian
Suatu usaha dan kegiatan pengaturan uang yang meliputi kegiatan perencanaan, sumber keuangan, pengalokasian, penganggaran, pemanfaatan dana, pembukuan, penyimpanan, pemeriksaan dan pengawasan, pertanggungjawaban dan pelaporan uang yang digunakan dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah.
2. Tujuan
Tujuan administrasi keuangan sekolah adalah untuk mewujudkan :
a. penyelenggaraan pendidikan yang dilaksanakan secara efisien.
b. terjaminnya kelangsungan hidup dan perkembangan sekolah.
c. tercegahnya kekeliruan, kebocoran atau penyimpangan penggunaan dana.
d. terjaminnya akuntabilitas perkembangan sekolah.
3. Sumber keuangan dan pembiayaan
Sumber keuangan dan pembiayaan pada suatu sekolah secara garis besar dapat dikelompokkan atas tiga sumber, yaitu :
1. Pemerintah,baik pemerintah pusat,daerah maupun kedua-duanya,yang bersifat umum atau khusus dan diperuntukkan bagi kepentingan pendidikan.
2. Orang tua atau peserta didik.
3. Masyarakat,Baik Mengikat Maupun Tidak Mengikat.
Setiap unit kerja selalu berhubungan dengan masalah keuangan, demikian pula sekolah. Persoalan yang menyangkut keuangan sekolah pada garis besarnya berkisar pada: uang Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP), uang kesejahteraan personel dan gaji serta keuangan yang berhubungan langsung dengan penyelenggaraan sekolah seperti perbaikan sarana dan sebagainya.
Beberapa instrumen (format-format) yang mencerminkan adanya kegiatan manajemen keuangan sekolah tersebut :
A. Manajemen Pembayaran SPP
Dasar hukum penyusutan SPP adalah keputusan bersama tiga menteri yaitu:
- Menteri P&K (No.0257/K/1974)
- Menteri dalam negeri (No.221 Tahun 1974)
- Menteri keuangan (No. Kep. 1606/MK/II/1974) tertanggal: 20 Nopember 1974
SPP dimaksudkan untuk membantu pembinaan pendidikan seperti yang ditunjukkan pada pasal 12 keputusan tersebut yakni membantu penyelengaraan sekolah, kesejahteraan personel,perbaikan sarana dan kegiatan supervisi.
Yang dimaksud penyelenggaraan sekolah ialah :
- Pengadaan alat atau bahan manajemen
- Pengadaan alat atau bahan pelajaran
- Penyelenggaraan ulangan, evaluasi belajar, kartu pribadi, rapor dan STTB
- Pengadaan perpustakaan sekolah
- Prakarya dan pelajaran praktek
Selanjutnya pada pasal 18 dinyatakan bahwa kedudukan kepala sekolah dalam pengelolaan SPP adalah bendaharawan khusus yang bertanggungjawab dalam penerimaan,penyetoran dan penggunaan dana yang telah ditentukan terutama dan penyelenggaraan sekolah.
B. Manajemen keuangan yang berasal dari Negara (pemerintah)
Yang dimaksud keuangan dari Negara ialah meliputi pembayaran gaji pegawai atau guru dan belanja barang untuk pertanggung jawaban uang tersebut diperlukan beberapa format sebagi berikut:
a. Lager gaji (daftar permintaan gaji)
b. Buku catatan SPMU (Surat Perintah Mengambil Uang)
C. Manajemen keuangan yang berasal dari BP3
Badan Pembantu Penyelenggaraan Pendidikan (BP3) bertugas memberikan bantuannya dalam penyelenggaraan sekolah.Bantuan ini dapat berbentuk uang tetapi mungkin pula dalam bentuk lain seperti usaha perbaikan sekolah,pembangunan lokal baru,dan sebagainya
D. Lain-lain
Sudah menjadi hal yang umum bahwa guru atau karyawan sering mempunyai sangkut paut tersendiri dalam hal keuangan terutama gaji.Dalam hubungan ini misalnya kegiatan arisan di sekolah koperasi antar guru dan lain-lain
Oleh karenanya kepala sekolah sebagai pemimpin lembaga wajib mengetahui dengan jelas berapa gaji bersih yang diterima oleh anak buahnya,usaha pembinaan kesejahteraan pegawai kiranya perlu diperhatikan data tersebut.
4. Komponen Administrasi Keuangan Sekolah
Komponen administrasi keuangan meliputi, kegiatan sebagai berikut ini:
a. Kegiatan Perencanaan
Perencanaan keuangan terdiri atas:
- perencanaan jangka pendek
- perencanaan jangka menengah
- perencanaan jangka panjang
b. Sumber Keuangan
c. Pengalokasian
Alokasi tersebut terdiri atas :
- alokasi pembangunan, baik pembangunan fisik ( penambahan fasilitas ) maupun nonfisik ( pendidikan dan latihan pegawai ).
- alokasi kegiatan rutin, seperti belanja pegawai, kegiatan belajar mengajar,
pembinaan kesiswaan dan kebutuhan rumah tangga.
d. Penganggaran
e. Pemanfaat Dana
f. Pembukuan
1) Prinsip pembukuan meliputi :
- pemasukan dan pengeluaran keuangan tercatat secara tertib, disertai dengan
bukti tertulis sesuai aturan yang berlaku.
- pencatatan siap diberikan setiap saat.
- pembukuan dilakukan secara terbuka.
2) Jenis pembukuan terdiri atas :
- buku kas umum
- buku per mata anggaran
- buku kas harian
- buku surat perintah membayar uang / giro
- buku bank
- buku pembantu lainnya sesuai dengan kebutuhan
g. Pemeriksaan dan Pengawas
h. Pertanggungjawaban dan Pelaporan
1. Pengertian
Suatu usaha dan kegiatan pengaturan uang yang meliputi kegiatan perencanaan, sumber keuangan, pengalokasian, penganggaran, pemanfaatan dana, pembukuan, penyimpanan, pemeriksaan dan pengawasan, pertanggungjawaban dan pelaporan uang yang digunakan dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah.
2. Tujuan
Tujuan administrasi keuangan sekolah adalah untuk mewujudkan :
a. penyelenggaraan pendidikan yang dilaksanakan secara efisien.
b. terjaminnya kelangsungan hidup dan perkembangan sekolah.
c. tercegahnya kekeliruan, kebocoran atau penyimpangan penggunaan dana.
d. terjaminnya akuntabilitas perkembangan sekolah.
3. Sumber keuangan dan pembiayaan
Sumber keuangan dan pembiayaan pada suatu sekolah secara garis besar dapat dikelompokkan atas tiga sumber, yaitu :
1. Pemerintah,baik pemerintah pusat,daerah maupun kedua-duanya,yang bersifat umum atau khusus dan diperuntukkan bagi kepentingan pendidikan.
2. Orang tua atau peserta didik.
3. Masyarakat,Baik Mengikat Maupun Tidak Mengikat.
Setiap unit kerja selalu berhubungan dengan masalah keuangan, demikian pula sekolah. Persoalan yang menyangkut keuangan sekolah pada garis besarnya berkisar pada: uang Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP), uang kesejahteraan personel dan gaji serta keuangan yang berhubungan langsung dengan penyelenggaraan sekolah seperti perbaikan sarana dan sebagainya.
Beberapa instrumen (format-format) yang mencerminkan adanya kegiatan manajemen keuangan sekolah tersebut :
A. Manajemen Pembayaran SPP
Dasar hukum penyusutan SPP adalah keputusan bersama tiga menteri yaitu:
- Menteri P&K (No.0257/K/1974)
- Menteri dalam negeri (No.221 Tahun 1974)
- Menteri keuangan (No. Kep. 1606/MK/II/1974) tertanggal: 20 Nopember 1974
SPP dimaksudkan untuk membantu pembinaan pendidikan seperti yang ditunjukkan pada pasal 12 keputusan tersebut yakni membantu penyelengaraan sekolah, kesejahteraan personel,perbaikan sarana dan kegiatan supervisi.
Yang dimaksud penyelenggaraan sekolah ialah :
- Pengadaan alat atau bahan manajemen
- Pengadaan alat atau bahan pelajaran
- Penyelenggaraan ulangan, evaluasi belajar, kartu pribadi, rapor dan STTB
- Pengadaan perpustakaan sekolah
- Prakarya dan pelajaran praktek
Selanjutnya pada pasal 18 dinyatakan bahwa kedudukan kepala sekolah dalam pengelolaan SPP adalah bendaharawan khusus yang bertanggungjawab dalam penerimaan,penyetoran dan penggunaan dana yang telah ditentukan terutama dan penyelenggaraan sekolah.
B. Manajemen keuangan yang berasal dari Negara (pemerintah)
Yang dimaksud keuangan dari Negara ialah meliputi pembayaran gaji pegawai atau guru dan belanja barang untuk pertanggung jawaban uang tersebut diperlukan beberapa format sebagi berikut:
a. Lager gaji (daftar permintaan gaji)
b. Buku catatan SPMU (Surat Perintah Mengambil Uang)
C. Manajemen keuangan yang berasal dari BP3
Badan Pembantu Penyelenggaraan Pendidikan (BP3) bertugas memberikan bantuannya dalam penyelenggaraan sekolah.Bantuan ini dapat berbentuk uang tetapi mungkin pula dalam bentuk lain seperti usaha perbaikan sekolah,pembangunan lokal baru,dan sebagainya
D. Lain-lain
Sudah menjadi hal yang umum bahwa guru atau karyawan sering mempunyai sangkut paut tersendiri dalam hal keuangan terutama gaji.Dalam hubungan ini misalnya kegiatan arisan di sekolah koperasi antar guru dan lain-lain
Oleh karenanya kepala sekolah sebagai pemimpin lembaga wajib mengetahui dengan jelas berapa gaji bersih yang diterima oleh anak buahnya,usaha pembinaan kesejahteraan pegawai kiranya perlu diperhatikan data tersebut.
4. Komponen Administrasi Keuangan Sekolah
Komponen administrasi keuangan meliputi, kegiatan sebagai berikut ini:
a. Kegiatan Perencanaan
Perencanaan keuangan terdiri atas:
- perencanaan jangka pendek
- perencanaan jangka menengah
- perencanaan jangka panjang
b. Sumber Keuangan
c. Pengalokasian
Alokasi tersebut terdiri atas :
- alokasi pembangunan, baik pembangunan fisik ( penambahan fasilitas ) maupun nonfisik ( pendidikan dan latihan pegawai ).
- alokasi kegiatan rutin, seperti belanja pegawai, kegiatan belajar mengajar,
pembinaan kesiswaan dan kebutuhan rumah tangga.
d. Penganggaran
e. Pemanfaat Dana
f. Pembukuan
1) Prinsip pembukuan meliputi :
- pemasukan dan pengeluaran keuangan tercatat secara tertib, disertai dengan
bukti tertulis sesuai aturan yang berlaku.
- pencatatan siap diberikan setiap saat.
- pembukuan dilakukan secara terbuka.
2) Jenis pembukuan terdiri atas :
- buku kas umum
- buku per mata anggaran
- buku kas harian
- buku surat perintah membayar uang / giro
- buku bank
- buku pembantu lainnya sesuai dengan kebutuhan
g. Pemeriksaan dan Pengawas
h. Pertanggungjawaban dan Pelaporan
Langganan:
Postingan (Atom)